JUDUL
Pengaruh Teknik SQ3R dalam
Membaca Cepat Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK Mathla’ul Anwar
Cibuah Tahun Pelajaran 2016/2017
I.
MASALAH
A.
Latar
Belakang Masalah
Masalah umum yang sering
dijumpai dalam pembelajaran bahasa indonesia adalah bagaimana mengembangkan
pengertian atau pemahaman pengetahuan dalam diri siswa, serta bagaimana memilih
atau menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan materi yang diajarkan.
Dalam menghadapi tantangan perubahan terhadap metode pendidikan maupun model
pembelajaran memerlukan ide kreatif keberanian dan kemampuan untuk penilaian
diri dan didukung oleh kemauan untuk merubah. Oleh karena itu, disekolah guru
hanya mengajar tanpa memperhatikan cara mengajarnya.
Membaca merupakan cara
menjadi diri lebih tahu jika dibandingkan dengan sebelum membaca tidak ada
orang yang buta huruf yang lebih pandai dari pada orang yang mau membaca dan
tidak ada orang yang membaca lebih sedikit pandai dari pada orang yang lebih
banyak membaca (Pusara dalam lumasre, 2008 : 3). Didalam bukunya soedarso, 2002
: 59 mengungkapkan para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara
membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem, salah satu yang banyak
dikenal dan dipraktekan orang adalah SQ3R. Membaca cepat adalah kegiatan
merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat
dan cepat (Hernowo, 2005). Selanjutnya Surya, (2004 : 57) mengemukakan bahwa
prestasi belajar adalah seluruh kecakapan hasil yang dicapai yang diperoleh
melalui proses belajar berdasarkan tes belajar.
Tidak semua guru atau
belum banyak guru yang memiliki kegairahan dalam menggunakan model-model
pembelajaran yang kreatif dan unik yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir
anak. Masih banyak diremukan dalam sebuah ruang kelas, guru yang menggunakan
model pembelajaran konvensional seperti ceramah dalam banyak pokok bahasan.
Dengan gayanya sendiri duduk dimeja guru sambil membuka buku sumber, kemudian
guru tersebut memberikan ceramah mengenai pokok bahasan kepada siswa. Jika
suatu model pembelajaran yang unik tidak diterapkan dalam kegiatan belajar
mengajar, maka biasanya siswa akan merasa jenuh dan bosan karena dalam proses
belajar mengajar yang mereka lalui dengan model pembelajaran yang sama akan
tecipta kegaduhan dalam kelas yang diciptakan sendiri oleh siswa. Dilihat dari
segi kepuasan secara emosional, suatu hasil menemukan sendiri nilai kepuasan lebih
tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian berajak dari logika yang cukup
sederhana itu tanpaknya akan memiliki hubungan yang erat bila dikaitkan dengan
model pembelajaran. Dimana hasil pembelajaran merupakan hasil dari kreatifitas
siswa sendiri, akan bersifat lebih tahan lama diingat oleh siswa, bila
dibandingkan dengan sepenuhnya pemberian dari guru. Untuk menumbuhkan kebiasaan
siswa secara kreatif agar bisa menemukan pengalaman belajarnya sendiri,
berimplikasi pada model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru.
Dari uraian di atas, maka peneliti bermaksud mengadakan
penelitian dengan judul ” Pengaruh
Teknik SQ3R dalam Membaca Cepat Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK
Mathla’ul Anwar Cibuah Tahun Pelajaran 2016/2017”
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.
Faktor apa sajakah yang menyebabkan menurunnya
kemampuan membaca cepat siswa?
2.
Upaya apakah yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa?
3.
Apakah siswa mampu untuk membaca cepat?
4. Kendala
apa saja yang mungkin dihadapi dalam pembelajaran membaca cepat pada siswa
kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah?
5. Model
pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung belum
memberikan kontribusi yang maksimal terhadap kemampuan Membaca siswa,
6. Bagaimana
kegiatan pembelajaran Membaca Cepat untuk memahami isi cerpen yang dilakukan di
sekolah?
7. Apakah
model pembelajaran mempengaruhi kemampuan membaca cepat dan memahami isi
cerpen?
8. Model
pembelajaran apakah yang tepat untuk mengajar membaca cepat dalam memahami isi
cerpen?
9. Apakah
terdapa pengaruh kemampuan membaca cepat dalam prestasi belajar siswa kelas X
SMK Mathla’ul Anwar Cibuah?
C.
Pembatasan
Masalah
Dalam
penelitian ini masalah akan dibatasi pada pengaruh teknik SQ3R, hakikat
membaca, jenis membaca dan prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar
Cibuah
D.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan masalah yang telah dibatasi sebagaimana
di atas, maka penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan teknik SQ3R?
2.
Apa yang dimaksud dengan membaca cepat?
3.
Apa yang dimaksud dengan prestasi
belajar?
4.
Bagaimana pengaruh teknik SQ3R dalam
membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar
Cibuah
E.
Tujuan
Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian, adalah
sebagai berikut:
1.
Ingin mengetahui definisi teknik SQ3R
2.
Ingin mengetahui definisi membaca cepat
3.
Ingin mengetahui definisi prestasi
belajar
4.
Ingin mengetahui pengaruh teknik SQ3R
dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar
Cibuah
F.
Manfaat
Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga dan berguna bagi
:
1.
Para
guru bahasa Indonesia sebagai acuan dalam memvariasikan pembelajaran tentang teknik
SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa secara lebih baik.
2.
Para
calon guru agar dapat mempersiapkan diri terhadap tantangan dan kondisi
pembelajaran teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa.
3.
Para
siswa agar dapat meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknik SQ3R dalam
membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa secara efektif.
4.
Peneliti,
dapat menambah wawasan pengetahuan, dan pengalaman terutama dalam hal
penelitian
II.
KAJIAN
TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A.
Kajian
Teori
1.
Hakikat
Membaca
Beberapa ahli mengemukakan definisi yang berbeda, tetapi
pada dasarnya mereka mempunyai persamaan persepsi tentang membaca yaitu
merupakan sebuah proses. Menurut Anderson (dalam Tarigan 1998:7), membaca
adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi yang mencangkup
pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan
suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media tulis,
(Tarigan, 1998 : 9).
Allen
dan Vallete (dalam Tarigan, 1998:94) mengemukakan, “membaca merupakan proses
yang berkembang (a developmental process). Pada tahap awal membaca
sebagai pengenalan simbol huruf cetak (word recognitif) yang
terdapat pada sebuah wacana. Dari
membaca per huruf, per kata, per kalimat kemudian berlanjut membaca
paragraf dan esay pendek”.
Menurut Hodgson (dalam Tarigan,1998:7),” membaca
merupakan sutau keterampilan, proses yang dilakukan serta digunakan oleh
pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media
kata tulis.”
Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang aktif dan
interaktif. Dengan pengetahuannya pembaca harus mengikuti jalan pemikiran
penulis dan dengan daya kritisnya ditantang untuk dapat merespon, dengan jalan
menyetujui atau tidak menyetujui gagasan atau ide yang dikemukakan oleh seorang
penulis.
2.
Jenis
Membaca
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan
membaca, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Setiap keterampilan
berhubungan erat dengan keterampilan yang lain. Tarigan mengemukakan jenis
membaca sebagai berikut: (1) membaca diam dan membaca nyaring, (2) membaca
telaah isi, (3) membaca telaah bahasa, (4) membaca sastra. Membaca telaah isi
meliputi: membaca teliti, membaca pemhaman, membaca kritis dan membaca ide
(Tarigan, 1998:11-13).
Membaca teliti membutuhkan keterampilan: (1) survey yang
tepat untuk memperhatikan organisasi atau pendekatan umum, (2) membaca secara
seksama dan membaca ulang parafraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat
judul dan perincian-perincian penting, (3) membantu ingatan, mencatat fakta
serta ide yang penting dapat menanamkan kesan yang mendalam pada ingatan kita
(Tarigan, 1998:14).
Membaca paragraf memerlukan pelatihan diri mengenal pokok
pikiran dan mengenal pengembangan pokok pikiran tersebut. Membaca pemahaman
adalah jenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar atau norma
kesusastraan, resensi, kritik, drama tulis dan pola fiksi. Kemampuan membaca
pemahaman merupakan dasar membca kritis. Membaca kritis (membaca
interpretative) bertujuan: (1)memahami maksud penulis, (2) memahami organisasi
daar tulisan, (3) menilai penyajian penulis atau pengarang, (4) menerapkan
prinsip kritis pada bacaan sehari-hari, (5) meningkatkan minat baca, kemampuan
baca dan berpikir kritis, (6) mengetahui prinsip pemilihan bahan bacaan.
Membaca telaah bahasa terdiri dari membaca bahasa (foreigen
language reading) danmembaca sastra (literaty reading). Tujuan utama
telaah bahasa adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata
serta memahami isi dan menikmati keindahannya.
Pembaca yang baik adalah pembaca yang: (1) tahu mengapa
ia membaca, (2) memahami apa yang dibaca, (3) mengenal media
cetak,bentuk-bentuk kontemporer media cetak seperti paperback media grafika,
majalah, surat kabar dan sebagainya, (4) menguasai kecepatan membaca dan
beberapa hal seperti membaca sekilas, memetik secara kasar tiga atau empat hal
dalam satu halaman untuk memperoleh gambaran umum bagian sebagai
satu keseluruhan. Membaca cepat untuk mencari hal tertentu yang diinginkan. Membaca
cepat yang baik adalah 800-1000 kata per menit. Membaca demi kesenangan, yaitu
membaca dengan melewati hal yang kurang menarik dan membaca dengan lambat pada
hal yang menarik. Membaca demi kesenangan yang baik rata-rata 500-600 kata
dalam satu menit. Disamping itu perlu diketahui tentang membaca serius. Membaca
secara serius rata-rata 300-599 kata dalam satu menit, Salisbury (dalam
Tarigan, 1998:117-119).
3.
Membaca
Cepat
Menurut Soedarso (2002:14) dalam membaca cepat terkandung
pemahaman yang cepat pula. Pemahaman menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan
kecepatan. Pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan
terbaik untuk mencapai tujuannya. Menurut Harry Sheffer (dalam
Soedarso, 2002:13) pada umumnya orang yang membaca dapat mencapai kecepatan 350-500
kata per menit (kpm). Adapun membaca cepat yang baik menurut
Soedarso (2002: 4-8) adalah:
1.
Meningggalkan kebiasaan membaca yang salah
sejak kecil dan mengatasinya, seperti menggerakkan bibir diganti dengan diam,
menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan diganti dengan menggerakkan mata ke
kiri da ke kanan, meninggalkan kebiasaan membaca dengan menunjukkan jari atau
benda lain.
2.
Tidak melakukan regresi, yaitu kebiasaan
kembali ke belakang untuk melihat kata atau frase yang baru dibaca.
3. Melamun
dapat diatasi dengn kosentrasi waktu membaca.
4. Meninggalkan subvokalisasi, yaitu melafalkan
kata-kata yang dibaca dalam batin, yang penting menangkap ide bukan mengingat
simbol.
Cara mengukur kecepatan membaca (Sudarso, 2002: 14):
Menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dilakukan
dengan jalan menghitung kata perbaris rata-rata dikalikan jumlah baris yang
dibaca. Untuk menghitung kata perbaris rata-rata, hitung jumlah kata dalam lima
baris sedudah itu dibagi lima hasilnya adalah kata perbaris kata-kata. Contoh:
Jumlah kata perbaris rata-rata : 11
Jumlah baris yang
dibaca : 60
Jumlah kata yang
dibaca : 11 x 60 = 660
Jika kita membaca 2 menit 10 detik, atau 130 detik maka
kecepatan membaca kita adalah 660 kata/130 detik = 346 kata permenit. Menurut
Sugiarto (2001) faktor terakhir yang memhubungani siswa dalam
membaca adalah penguasaan teknik membaca. Ada beberapa teknik membaca yang baik
diantaranya teknik survey, reresite, review (SQ3R), scanning dan skimming.
Selanjutnya Miuecky dalam Sugiarto mengemukakan bahwa
untuk melakukan membaca cepat sebuah artikel maka:
a.
Membaca
paragraf pertama dan kedua untuk mendapatkan overview dari sebuah artikel.
b.
Pada
paragrapf tiga dan seterusnya mulailah tinggalkan bagian-bagian yang tidak
diperlukan dan bacalah kalimat atau frase kunci untuk mendapatkan mind idea dan
beberapa detail yang dibutuhkan.
c.
Bacalah
seluruh paragraf terakhir yang biasanya merupakan rangkuman dari
artikel.
4.
Pengaruh
Membaca Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Kita semua memahami fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional, bahasa resmi negara dan bahasa pengantar dalam lembaga
pendidikan. Telah diuraikan pada bagian sebelumnya tentang pendapat para ahli
dalam usaha meningkatkan pemahaman untuk menaikkan prestasi belajar.
Tarigan (1998:117-119) mengemukakan
bahwa pembaca yang baik adalah pembaca yang mengetahui
mengapa ia membaca, memahami yang dibaca, menguasai kecepatan membaca, membaca
serius bahan yang penting, membaca cepat untuk mencari hal yang diinginkan.
Soedarso mengemukakan bahwa membaca yang efisien adalah membaca untuk memahami
suatu bacaan, perlu mengambil suatu langkah yang strategis seperti SQ3R,
menemukan ide pokok, mengetahui ide pokok paragraph, membaca secara kritis,
mengingat lebih lama dan membuat catatan. Dengan teknik membaca yang benar siswa dapat membaca
dengan efisien.
Kemampuan membaca cepat sebagaimana yang tertera dalam
judul, yang dimaksud adalah kemampuan membaca dengan cepat dalam memahami bahan
bacaan. Yang diutamakan bukan kecepatannya melainkan pemahamannya. Dengan
memberikan bimbingan membaca yang benar diharapkan siswa dapat dengan cepat
memahami materi yang dibaca. Berdasarkan uraian di atas, membaca
terbimbing dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajar
Sebagai mana telah diuraikan pada bagaian
sebelumnya, dengan didukung oleh pendapat dan temuan para ahli antara lain
Soedarso, dalam membaca cepat terkandung didalamnya pemahaman yang cepat pula.
Membaca cepat yang benar (terbimbing) dapat membantu mempermudah pemahaman
dalam belajar. Menurut Guntur Tarigan dengan membaca cepat dan efesien, dia
akan mendapatkan apa yang dicarinya.
Joni (1991) menyatakan bahwa kinerja guru adalah
kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di kelas secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan secara optimal. Indikator-indikator
kemampuan guru di kelas antara lain meliputi;
a.
Kemampuan Membuat Persiapan Mengajar dan
Melaksanakan Evaluasi
Pengajaran merupakan suatu kegiatan atau upaya untuk
membantu para siswa mengembangkan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan dalam
suatu bidang tertentu. Kegiatan pengajaran tidak sederhana seperti yang kita
bayangkan tetapi cukup kompleks, karena itu kegitan ini membutuhkan perencanaan
yang matang dan dibuat secara tertulis. Persiapan atau perencanaan merupkana
langkah awal dar suatu kegitan berisi berbagai upaya mempersiapkan apa yang
harus dilaksanakan. Oleh karena itu persiapan atau perncanaan adalah hal yang
sangat penting dilakukan oleh seorang guru sebelum melakukan tugas pengajaran
Karti (2003) menyatakan bahwa kesiapan guru
dalam mengajar akan terlihat dalam perencanaan yang dibuat oleh guru, yang
biasanya berwujud dalam satuan pelajaran. Hampir sama dengan pendapat di atas,
Mursel dan Nasution (1995) menyatakan bahwa perencanaan adalah pemikiran
artinya menggunakan prinsip-prinsip umum situasi-situasi yang khusus. Makin
baik dipikirkan makin baik pula persiapan pelajaran. Dalam membuat suatu
perencanaan harus diperhatikan situasi dan kondisi yang ada yaitu kemampuan
guru, kemampuan siswa, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah, sehingga
apa yang direncakan itu dapat dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Djamarah (2000) yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan guru dalam pengajaran
adalah tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah guru rencanakan. Agar
pelaksanaan pengajaran berjalan efisien dan efektif maka diperlukan perencanaan
yang tersusun secara sistematis, dengan proses belajar mengajar yang lebih
bermakna dan mengaktifkan siswa serta dirancang dalam suatu skenario yang
jelas. Ibrahim dan Syaodih (1996) menyatakan bahwa:
Apabila seorang guru akan mengajarkan setiap pokok
bahasan kepada siswanya ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu agar
proses belajar mengajar dapat berjalan lancar, sehingga tujuan yang telah
ditetapkan dapat dicapai. Untuk melihat apakah guru sudah siap untuk
melaksanakan proses belajar mengajar dapat dilihat dari persiapan mengajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, penyusunan program pengajaran
bertujuan agar pelaksanaan pengajaran lebih lancar dan hasilnya lebih baik,
karena dengan perencanaan atau persiapan guru dapat melaksanakan proses belajar
mengajar dengan baik di kelas sebab apa yang dilaksanakannya sudah dipersiapkan
lebih dahulu secara tertulis bukan materi yang muncul secara tiba-tiba.
Secara garis besar, perencanaan pengajaran mencakup
kegiatan-kegiatan : merumuskan tujuan-tujuan apa yang dicapai, cara apa yang
digunakan untuk menilai pencapain tujuan tersebut, materi apa yang akan
disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang
diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut. Menurut Usman
(1992) dalam merencanakan suatu pelajaran hendaknya diperhatikan hubungan
antara tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar dan penilaian karena ketiga
aspek ini saling berkaitan.
b. Kemampuan Menggunakan Metode
dan Media Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak mampu
berkonsentrasi untuk belajar dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak
didik terhadap bahan yang diberkan juga bermacam macam, ada yang cepat, ada
yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelinjensi memhubungani daya serap
anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat atau
lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki
waktu yang bervariasi. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat
agar perbedaan daya serap yang dialami siswa bisa diatasi. Dan salah satu
strategis tersebut adalah pemilihan dan penggunaan metode dan media
pembelajaran pembelajaran.
Roestiyah (2001) menyatakan bahwa guru harus memiliki
strategi, agar siswa dapat belajar seara efektif dan efisien, mengena pada
tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi adalah harus
menguasai teknik penyajian, atau biasanya disebut metode. Teknik penyajian
pelajaran adalah alat atau cara yang harus dikuasai oleh guru untuk menyajikan
materi pembelajaran kepada siswa dalam kelas, agar pelajaran yang diberikan itu
dapat diterima dengan baik oleh siswa.. Dengan kata lain bahwa pengunaan metode
adalah salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Terkait dengan hal tersebut di atas, maka guru dituntut
untuk mampu menguasai dan memilih metode yang relevan dengan materi dan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan
tujuan pembelajaran menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah
dirumuskan.
Djamarah dan Zain (dalam Lumasre, 2008:33) menyatakan
bahwa metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh
relavansi penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan. Pendapat tersebut di
atas, semakin kita pahami bahwa penguasan metode secara baik dan disertai
dengan pemilihan metode yang relavan dengan materi dan tujuan pembelajaran
sangat diperlukan bagi guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara
efektif.
Agar pemilihan metode pengajaran itu tidak keliru ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Menurut Surakhmad
(2002), faktor itu adalah:
Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik
dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai kendalanya,
fasilitas dengan berbagai kualitasnya, dan pribadi guru dengan kemampuan
profesional yang berbeda-beda.
Disamping itu dalam memilih dan menggunakan metode tentu
saja guru harus mempertimbangkan media yang tepat agar metode pembelajaran
dapat berfungsi secara efektif. Media pembelajaran adalah alat bantu yang bisa
memperjelas materi pembelajaran sehingga tidak terjadi verbalisme.
Sebagai alat bantu media mempunyai fungsi yaitu
memberikan arah yang positip untuk melicinkan jalan mencapai tujuan Dengan
bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik Namun
demikian penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut
kemauan dan selera guru tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan
kriteria kriteria yang dapat menunjang tercapainya tujuan Kreteria
tersebut antara lain;.Sesuai dengan metode dan tujuan yang ingin dicapai, tepat
untuk mendukumg isi pelajaran yang bersifat fakta konsep prinsip generalisasi,
praktis, luwes dan bertahan, guru terampil menggunakannya, dan pengelompokan
sasaran.
c. Kemampuan Menguasai Materi
Pembelajaran
Kemampuan guru dalam menyajikan materi pelajaran secara
baik juga menjadi penyebab terjadinya suasana kelas kondusif. Kalau guru yang
tidak mampu menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa
memiliki kesempatan untuk bermain-main pada waktu guru mengajar. Akibatnya
adalah suasana kelas terganggu.
Arikunto (1993) menjelaskan ada tiga faktor yang
mempengaruhi penampilan guru dalam mengelola kelas, antara lain; pandangan guru
yang bersangkutan terhadap profesi guru, bagaimana guru tersebut menyikapi
tugasnya sebagai guru, dan seberapa kemampuan umum yang dimiliki oleh guru agar
mendukung tugasnya sebagai guru.
Berdasarkan uraian di atas, maka penguasaan guru terhadap
materi pembelajaran, akan membuat guru menjadi lebih percaya diri dihadapan
siswa, sehingga dapat menarik minat siswa terhadap materi pembelajaran yang
disampaikan guru. Dengan demikian guru diharapkan bekerja secara profesional,
mengajar secara sistematis dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang
berdaya guna dan berhasil guna.
d. Kemampuan Mengelola Kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang
sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Karena pengelolaan kelas
merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk
menciptakan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan
pembelajran secara efisien dan memungkinkan mereka untuk belajar. Dengan
demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat mutlak bagi pembelajaran
yang efektif.
Arikunto (1996) menyatakan pengelolaan kelas adalah suatu
usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang
membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana
kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
Kegiatan pengelolaan kelas ini merupakan segala upaya
yang dapat diperbuat oleh guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi
kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan
efisien. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2002) bahwa
pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam
proses belajar mengajar.
Dengan demikian pengelolaan kelas adalah
kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal
bagi terciptanya proses belajar mengajar. Kondisi yang optimal dapat terjadi
apabila guru mampu mengatur anak didik dan sarana pembelajaran dan
mengendalikannya dalam suasana yang kondusif untuk pencapaian tujuan
pembelajaran.
Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas bagi
bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, dan intelektual
dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan
bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasanan
disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada
siswa, sehingga melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan
pembelajaran dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti.
Arikunto (1996) mengatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah agar setiap anak didik di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga
segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pendapat yang
lengkap dan mendasar dikemukakan oleh Pidarta (1999) mengatakan bahwa tujuan
pengelolaan kelas adalah: Membantu guru-guru mengerti sebab-sebab dasar problem
perilaku, memungkinkan guru-guru mendiagnosis problem perilaku, membuat
perilaku lebih dapat dipridiksi, dan memperbaiki kemampuan guru mengorganisir
kelas.
Pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan.
Karena dalam kelas itu terkumpul berbagai karakteristik yang bervariasi. Namun
demikian guru tidak perlu merasa bosan mengelola kelas setiap kali mengajar.
Karena gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan tidak
mampunya guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu adalah prestasi
belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang
ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi keguruan yang
sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka keberhasilan proses belajar
mengajar.
Pidarta, (1995) mengatakan masalah-masalah pengelolaan
kelas berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1.
Kurang
kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik- klik, misalnya
pertentangan jenis kelamin.
2.
Tidak
ada standar perilaku dalam kelompok misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi
kesana-kemari, dan sebagainya.
3.
Reaksi
negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan,
merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya.
4.
Kelas
mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong
perilaku siswa yang keliru.
5.
Mudah
bereaksi negatif terganggu, misalnya didatangi monitor, tamu-tamu,
iklim yang berubah, dan sebagainya.
6.
Moral
rendah, permusuhan agresif, misalnya dalam lembga dengan alat-alat belajar
kurang, kekurangan uang dan sebagainya.
7.
Tidak
mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas
tambahan, anggota kelas yang baru, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, maka guru dituntut untuk
mampu mengatur siswa dengan baik dalam pembagian kelompok tidak mengelompokkan
anak berdasarkan pintar dan bodoh, tetapi harus dicampur dalam satu kelompok
ada yang pintar dan ada yang bodoh. Guru juga dituntut untuk berbuat adil dalam
kelompok jangan sampai terjadi ada kelompok disayangi oleh guru dan ada
kelompok yang kurang disenangi. Disiplin juga ditegakkan dalam kelompok, jangan
sampai ada siswa yang diberi kebebasan dan ada pula siswa yang tidak diberi
kebebasan. Karena semuanya itu menyebabkan suasana kelas tidak kondusif.
Hal penting yang harus mendapatkan perhatian dalam rangka
pengelolaan kelas adalah upaya mengaktifkan keterlibatan siswa dalam proses
belajar mengajar. Siswa adalah salah satu komponen yang menempati posisi
sentral dalam proses belajar mengajar, sebab siswa sebagai pihak yang ingin
meraih cita-cita, memiliki tujuan dan ingin meraih cita-cita dan tujuan itu
secara optimal. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu sebagai penuntun dan
pembimbing untuk mengantarkan siswa ke arah pencapaian tujuan yang
diharapkan.
Dalam proses itu guru harus mampu mengorganisir setiap
kegiatan belajar mengajar dan menghargai anak didiknya sebagai suatu subjek
yang memiliki bekal dan kemampuan. Pengertian guru semacam ini sangat penting,
agar guru tidak bersikap semena-semena sebagai seorang atasan, dan sekaligus
agar guru tidak segan-segan memberikan dorongan kepada siswanya.
Sriyono (1992) menyatakan Guru hendaklah mencintai
murid-muridnya sebagaimana orang tua memikirkan anak-anaknya. Karena itu tidak
benar kalau guru memarahi anak didiknya bukan pada tempatnya, apalagi
mencemohkan atau menghina mereka karena kekurangan dan kebodohan. Yang bodoh
harus dibimbing, ditolong dan diarahkan dengan penuh rasa kasih sayang dan yang
pandai/maju didorong terus agar lebih berhasil lagi.
Perwujudan hubungan guru dan siswa harus lebih banyak
berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan dari guru, agar siswa merasa
bergairah, memiliki semangat, potensi dan kemampuan yang dapat meningkatkan
harga dirinya. Dengan demikian siswa diharapkan lebih aktif dalam melakukan
kegiatan belajar. Hal ini sesuai dengan sistem pengajaran modern yang dikenal
dengan cara belajar siswa aktif, yang menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif
Guru hendaknya tidak lagi mengajar segi kegiatan
menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa, tetapi guru
hendaknya mengajar untuk membelajarkan siswa dalam konteks bagaimana belajar
mencari, menemukan dan meresapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Atau
dengan kata lain bagaimana kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh guru dalam
rangka mengaktifkan siswa dalam dalam proses belajar mengajar. Karena dengan
demikian siswa dapat mengembangkan potensi atau bakat yang dia miliki menjadi
kemampuan atau prestasi yang maksimal.
Proses melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar
mengajar dapat dilakukan guru melalui bermacam-macam bentuk kegiatan, mulai
dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit
diamati. Kegiatan fisik yang mudah diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan
membaca, mendengar, menulis, meragamkan, menyuruh menyelesaikan soal. Sedangkan
kegiatan psikis yang sulit diamati itu adalah mengingat kembali isi pelajaran
pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam
memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan
suatu konsep dengan konsep yang lain.
Namun demikian kegiatan tersebut harus dapat dipulangkan
kepada suatu karakteristik yaitu keterlibatan intelektual, emosi siswa dalam
kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut terutama dapat dilakukan pada waktu
kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan pengetahuan, pada saat siswa
mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan, dan ketika siswa
menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Selanjutnya dalam kaitannya dengan penelitian ini maka
indikator-indikator kinerja guru yang dimaksud, antara lain meliputi kemampuan
guru sebagaimana dijelaskan Joni (1991), yaitu:
a.
Kemampuan
membuat persiapan mengajar dan melaksanakan evaluasi.
b.
Kemampuan
menggunakan metode dan media pembelajaran
c.
Kemampuan
menguasai materi pembelajaran
d.
Kemampuan
mengelola kelas.
5. Prestasi /Hasil Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah
melakukan perbuatan belajar. Prestasi belajar merupakan nilai (angka) yang
diperoleh siswa setelah melakukan ulangan, tugas atau unjuk kerja
yang dikembangkan sesuai dengan kurikulum dan gari-garis besar program
pengajaran di SMK Mathla’ul Anwar Cibuah.
Menurut Nawawi (1989:100) prestasi belajar
adalah tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi di
sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil
tes sejumlah mteri pelajaran tertentu. Prestasi yang telah dicapai, sedangkan
belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah prestasi yang telah dicapai
oleh siswa dalam belajarnya Poerwodarminto (1980:768).
Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989:45),
pengertian prestasi belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses
tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan yang bersifat
mentalistik, ia juga menambahkan prestasi belajar adalah proses hubungan antara
guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap
pengembangan diri siswa secara bebas, pembentukan memori (ingatan) paada siswa
dan pembentukan pemahaman pada siswa.
Seseorang akan berprestasi dalam belajar apabila ada
keinginan untuk belajar. Mouly (dalam Lumasre, 2008:35) menyatakan bahwa
belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang karena pengalaman.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmeizi (dalam Lumasre, 2001:35),
belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative permanent terjadi dari
prestasi pengalaman.
Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989:14), dalam
meningkatkan prestasi belajar perlu adanya perbaikan proses pembelajaran
(metode pengajaran). Jadi kondisi pengajaran menentukan prestasi belajar siswa
di kelas. Kondisi eksternal untuk belajar adalah strategi
pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Siswa
dikatakan belajar dalam kegiatan pembelajaran jika belajar yang terjadi lebih
besar daripada yang dapat terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali.dengan
demikian dapat dipastikan bahwa proses pembelajaran sesungguhnya
terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru. Logikanya, pada proses
pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada prestasi belajar.
Seseorang akan berprestasi dalam belajar bila pada dirinya ada
keinginan untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap
semua situasi yang ada di sekitar individu dengan cara melihat, mengamati,
memahami sesuatu. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dalam proses
pembelajaran dapat dlakukan dengan jalan membandingkan prestasi tes awal yang
diperoleh siswa dengan prestasi tes akhir siswa setelah pembelajaran selesai.
Bila prestasi tes khir skornya lebih tinggi dari skor tes awal berarti proses
pembelajaran memberikan peningkatan pada prestasi belajar siswa. Perbedaan
prestasi tes awal dan tes akhir menunjukkan skor yang nyata sebagai
akibat pembelajaran yang dilakukan (Prayitno, 1989:67).
Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditandai
dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan tersebut seperti
pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan,
kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
Hal ini telah dijelaskan oleh Nawawi (1989:102) yang
memberikan batasan prestasi belajar dalam tiga tingkatan kemampuan, yaitu:
a. Penguasaan materi pengetahuan berupa kemampuan menghafal,
mengingat fakta-fakta yang terdapat dalam materi pelajaran, istilah-istilah,
pengertian-pengertian, prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi yang
bersifat teoritis.
b. Pengertian dan pemahaman tercermin dalam tiga
bentuk tingkah laku, yaitu kemampuan menterjemahkan ke dalam bahasa sendiri,
memahami suatu gagasan, kemampuan menafsirkan dan kemampuan
menghubungkan topik dengan contoh-contoh yang konkrit, diiringi
dengan kemampuan menetapkan simpulannya.
c. Penggunaan materi pengetahuan berupa kemampuan
mempergunakan hasil suatu gagasan/pendapat yang bersifat umum, prosedur dan
metode, termasuk juga prinsip-prinsip teknik dalam situasi yang nyata.
d. Tiga tingkatan kemampuan yang lain sebagai hasil belajar
yang lebih kompleks adalah analisis, sintesis dan evaluasi.. Secara luas,
prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh skor/nilai, prestasi belajar dapat
juga berupa bakat dan keahlian.
6.
Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
1.
Faktor
Internal
Faktor
internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, artinya
factor kemampuan anak yang dibawa sejak lahir. Pada dasarnya setiap anak sudah dibekali dengan berbagai
kemampuan, bakat dan potensi. Kemampuan yang bersifat bawaan ini tidak dapat
dirubah, tetapi hanya dapat dihubungani atau dkembangkan menurut batas yang
dimilikinya. Orang tua dan guru hanya dapat mengembangkan potensi yang ada
dengan jalan memberikan rangsangan dan dorongan berupa bimbingan dan pendidikan
secukupnya. Jadi bimbingan dan pendidikan yang dilaksanakan keluarga
maupun di sekolah hanya merupakan proses untuk mengembangkan potensi-potensi
pada diri anak.
Keberhasilan belajar anak
dihubungani oleh berbagai faktor, yaitu:
a. Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan
jasmani anak, misalnya kesehatan. Pelajar yang tidak sehat, tentu tidak dapat
belajar dengan baik. Begitu juga anak yang badannya lemah dan sering pusing
tidak akan tahan lama dalam belajar. Dalam keadaan ini , apabila anak
dipaksa untuk belajar giat, anak tetap tidak dapat belajar dengan baik.
b. Faktor Psikologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan
rohaniah. Faktor ini mencakup intelegensi, perhatian, minat, bakat dan emosi.
Intelegensi adalah faktor eksternal yang sangat besar hubungannya terhadap
kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan intelegensi anak memang rendah, maka
anak akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Selain faktor intelegensi
atau kecerdasan, faktor lain misalnya cacat mental yang dibawa sejak lahir
seperti idiot, embilisitas, debilitas. Anak-anak yang tergolong embisil adalah
anak-anak yang kecenderungannya sama dengan anak-anak normal 3-7 tahun.
Anak-anak tersebut biasanya mengalami hambatan yang besar dalam usaha belajarnya.
Perhatian merupakan factor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat
menjamin belajar yang baik, harus ada perhatian terhadap bahan yang
dipelajari. Apabila pelajaran tidak menarik maka timbullah rasa bosan, malas
dan belajarnya seperti dikejar-kejar, akibatnya hasil belajar menjadi menurun.
2. Faktor Eksternal
Faktor
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, artinya segala
hubungan yang datang dari luar diri anak baik sebagai hasil pendidikan maupun
hasil pergaulan.usaha pendidikan adalah menciptakan situasi yang membuat anak
mau dan mampu untuk belajar. Adapun yang termasuk factor eksternal adalah
faktor keluarga. Faktor keluarga memiliki hubungan besar
terhadap prestasi belajar anak dibandingkan faktor pendidikan yang lain. Hal ini disebabkan hubungan yang bersifat kodrati antara
anak dan orang tua. Alam keluarga adalah pendidikan yang pertama dan terpenting
sejak timbulnya adapt kemanusiaan hingga kini (Suwarno, 1977:65).
B.
Kerangka
Berfikir
Dalam suatu kelas
terdapat siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Dalam
penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) pada umumnya, sering dilakukan
secara klasikal dimana seluruh siswa dalam kelas dipandang sebagai
suatu kelompok besar yang acapkali cara-cara mengajar guru tidak disesuaikan
dengan kemampuan rata-rata siswa. Sehingga dengan demikian, siswa yang kurang
pandai/lambat merasa tertinggal, dan siswa yang belajarnya cepat (pandai)
terpaksa tertahan kemajuannya. Keadaan ini tentunya merupakan keadaan yang
kurang menguntungkan bagi siswa yang pandai maupun siswa yang mengalami
kesulitan belajar, yang akhirnya berimbas pula kepada pencapaian hasil prestasi
belajar siswa.
Agar anak yang lambat
dapat dibantu, sedangkan anak yang cepat (pandai) kemampuannya bisa berkembang
terus, maka anak yang pandai dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang
lambat, misalnya memberikan petunjuk cara mengerjakannya apabila temannya
mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, usaha
membantu siswa menanggulangi kesulitan belajar yang mereka hadapi khususnya
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan metode tutorial
yakni kegiatan tutor sebaya yang diharapkan mampu membelajarkan siswa, serta
memberikan motivasi dan pelayanan khusus pada saat yang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan siswa. Kegiatan tutor sebaya in dalam pembelajaran remidial ini merupakan
usaha pencegahan atau merupakan usaha penyembuhan/perbaikan dari kesalahan atau
kesulitan yang terjadi dalam proses belajar.
Adapun kerangka berfikir
yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jika kemampuan membaca cepat siswa diterapkan, maka akan
menghasilkan prestasi belajar siswa yang berbeda/hasil lebih tinggi.
2.
Jika
kemampuan membaca cepat siswa tercapai maka akan meningkatkan prestasi belajar
siswa yang mengalami kesulitan belajar.
C.
Pengajuan
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan definisi dan
penjelasan teori dalam kajian pustaka dan kerangka berpikir serta dengan
mempertimbangkan komponen-komponen pokok yang telah diuraikan, dapat diajukan
hipotesis penelitian sebagai berikut:
1.
Penguasaan
teknik SQ3R terhadap Siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah sangat baik.
2.
Kemampuan
membaca cepat Siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah sangat baik. sangat
baik.
3.
Terdapat
hubungan antara penguasaan teknik SQ3R dengan kemampuan membaca cepat Siswa
kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah, artinya semakin baik penguasaan teknik SQ3R
maka semakin baik dan tinggi pula kemampuan membaca cepat siswa.
III.
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Tempat
dan Waktu Penelitian
a. Tempat
Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan di SMK Mathla’ul Anwar Cibuah-Rangkasbitung khususnya kelas
X. TKJ. 1 Semester Genap Tahun Ajaran 2016/2017
b. Waktu
Penelitian
Pelaksanaan
dilaksanakan pada tahun 2016/2017
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain “post test only
control group design” yakni. menempatkan subyek penelitian ke dalam dua
kelompok (kelas) yang dibedakan menjadi kategori kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan yaitu pembelajaran dengan model
pembelajaran SQ3R (Survey. Question, Read, Recite, Review) dan kelas kontrol
dengan pembelajaran konvensional.
C.
Populasi
dan Sampel
a. Populasi
Maka
yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Mathla’ul
Anwar Cibuah, yang berjumlah 230 siswa dan terbagi menjadi lima kelas pararel
sebagai kerangka sampel
b. Sampel
Sampel
adalah sebagai bahan dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan
menggunakan cara-cara tertentu. Peneliti menetapkan sampel pada
penelitian ini, diambil dari kelas X.TKJ.1 dan X.TKJ.2
Subyek
dalam penelitian ini ada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Untuk menentukan kelas mana yang terpilih sebagai kelas eksperimen, dan kelas
mana yang terpilih menjadi kelas kontrol, peneliti menggunakan pemilihan simple
random sampling, simple random sampling ialah cara pengambilan sampel dari
anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkat)
dalam anggota populasi tersebut. Maka yang terpilih menjadi subjek penelitian
adalah kelas X.TKJ.1 dan X.TKJ.2. Kelas X.TKJ.2 sebagai kelas kontrol dan X.TKJ.1
sebagai kelas eksperimen.
Berdasarkan
pertimbangan tersebut, ditetapkan jumlah sampel sebanyak 40 orang. Jumlah ini
melebihi batas minimal yang diperbolehkan dalam sebuah penelitian kuantitatif
sebagai syarat dalam perhitungan statistik, yaitu 30 orang. (Singarimbun dan
Sofian Efendi, 1989 : 171).
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Penelitian,
disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan
alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data
yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. yaitu terjun langsung
di lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Penelitian
lapangan dilakukan dengan memberikan tes berupa tes objektif dan pemberian
tugas
E. Teknik Analisis Data
Analisis data
dimaksudkan untuk melakukan pengujian hipotesis dan menjawab rumusan masalah
yang diajukan, karena menggunakan skala interval dan rasio, maka sebelum
melakukan pengujian harus dipenuhi persyaratan analisis terlebih dahulu, dengan
asumsi bahwa data harus :
a. Dipilih
secara acak (random),
b. Homogen
artinya data yang dibandingkan (dikomparasikan) sejenis (bersifat homogen),
maka perlu uji homogenitas,
c. Normal
artinya data yang dihubungkan berdistribusi normal, maka perlu uji normalitas
d. berdistribusi
normal, maka perlu uji normalitas,
e. Bersifat
linier artinya data yang dihubungkan
berbentuk garis linier maka perlu uji linieritas,
f. Berpasangan
artinya data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek
yang sama, kalau salah satu tidak terpenuhi untuk persyaratan analisis korelasi
atau regresi tidak dapat dilakukan (Ridwan, 2001: 115).
1.Uji
Normalitas
Uji normalitas
dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti berasal dari populasi
yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji
Chi- square sebagai berikut:
X2 = 
Dimana :
X2 : harga kai
kuadrat (chi square)
k :
kelas
i : panjang kelas
fe : frekuensi yang diharapkan
fo : hasil pengamatan
Kriteria pengujiannya adalah:
a.
Apabila X2
hitung ≤ X2
tabel , maka distribusi normal.
b.
Apabila X2 hitung
≥ X2 tabel
, maka tidak distribusi normal
2.Uji Homogenitas
Uji
homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua keadaan atau
populasi. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher sebagai berikut:
F =
=
dimana s2 =
,
Kriteria pengujiannya
adalah:
a.
apabila F hitung ≤ F tabel, maka homogen.
b.
apabila F hitung ≥ F tabel, maka tidak homogen.
3.Uji
t (t-test)
Uji
t satu sampel ini tergolong hipotesis deskriptif. Uji t ini terdapat dua rumus
yang digunakan, yaitu :
a. Jika
standar deviasi populasi tidak diketahui, maka yang digunakan ialah rumus thitung
thitung =
dimana S
=
,

,
Keterangan:
thitung : harga yang
dihitung
dan menunjukkan nilai standar deviasi dari
distribusi t (table t)
S :
standar deviasi
n :
jumlah sampel penelitian
x2 :
harga kai kuadrat (chi square)
b. Namun
apabila standar deviasi populasi diketahui Rumus statistik uji yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Z =
Keterangan:
Z :
statistik uji Z yang berdistribusi normal N(0,1)
σ : standar deviasi populasi yang telah
diketahui
Menentukan
kriteria pengujian :
Jika
– t tabel ≤ t hitung
, maka Ho diterima dan Ha
ditolak
Jika
+ t table ≥ t hitung
, maka Ho diterima dan Ha ditolak
F.
Statistik
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uji prasyarat analisis di atas, maka
kriteria pengujian hipotesis yang digunakan pada penelitian ini sebagai
berikut:
Ho = μ1 ≤ μ2
Ha = μ1
˃ μ2
μ1:
nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas eksperimen
μ2
: nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas control
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
Rusman. 2010. Model-model
pembelajaran: mengembangkan professionalism guru ed-2. Jakarta : Rajawali
pers.
S, Margono. 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Momon, Sudarman. 2013. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta : Rajawali
Pers.
Marthen,
Kanginan. 2001. Matematika untuk SMU
Kelas 1. Bandung : Grafindo Media Pratama
Riduan. 2012. Dasar-dasar Statistika. Bandung : Alfabeta.
Poerwadarminto, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka.
Herdian.
2012 : Pendekatan Pembelajaran. [Online].
Ditulis
Diakses pada 24
Januari 2017