Efek Blog

Selasa, 10 Januari 2017

MAKALAH ANALISIS WACANA DIALOG

ANALISIS WACANA DIALOG
MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Tata Wacana







Disusun oleh :

Kelompok 6
Nama               : 
Ø  Madropik
Ø  Novi Anjarsari
Ø  Entin Suhartini
Kelas               :  B
Semester          :  VII
Jurusan            :  Diksatrasiada

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATHLA’UL  ANWAR (BANTEN)
TAHUN AKADEMIK
2016/2017



KATA PENGANTAR

            Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat  menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Analisis Wacana Dialog” dengan lancar. 
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dosen pengampu Mata Kuliah Tata Wacana ( Bpk. Komarudin,M.Pd. ) dan teman-teman yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas. sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu pembuatan makalah ini. 
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.

                                                                                Warunggunung,    Januari 2017
                                                                                               
                                                                                                      Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I     PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang................................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah............................................................................ 1
C.  Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
D.  Manfaat Penulisan............................................................................ 2
E.   Sistematika Penulisan....................................................................... 2
BAB II    PEMBAHASAN
A.  Pengertian Wacana Dialog............................................................... 3
B.  Aspek – Aspek Analisis Wacana Dialog.......................................... 3
C.  Transkrip Dialog............................................................................... 5
D.  Analisis Wacana Dialog................................................................... 6
BAB III   PENUTUP
A.  Kesimpulan...................................................................................... 10
B.  Saran................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang

Di era globalisasi seperti sekarang  ini, dimana kita dituntut untuk bisa menjalani keseharia denga cepat,   tepat,   dan   sosialis suda barang   tentuny semua   itu membutuhkan komunikasi yang juga sekaligus menunjukkan kalau manusia itu merupakan makhluk   sosial.   Makhluk   yang   saling   membutuhka satu   sama   lain,   da untuk menunjukkan  itu,  maka  komunikasi  tentunya  menempati  tempat  yang  sangat  penting dalam kehidupan manusia.
Wacana salah satu media yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan, karena sangat fleksibel dalam kegunaannya. Dalam penggunaan wacana ada banyak jenis dan macamnya. Ketika itu ditinjau dari segi media yang digunakan, ada wacana lisan dan ada wacana tertulis,  begitupun  ketika  wacana  ditinjadarsegi  cara pemamparannya,  ada Narasi, Persuasi, Argumentasi, Eksposisi, dan Deskripsi. Dengan adanya berbagai macam wacana ini, membuat wacana selalu digunakan oleh banyak orang dalam penyampaian pesan atau argumen mereka.
Wacana dialog adalah wacana yang dibentuk oleh percakapan atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada  obrolan pembicaraan dalam telepon, wawancara, teks drama, dan sebagainya.

B.            Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang ingin kami pecahkan yaitu, bagaimana cara menganalisis suatu wacana dialog melalui media wawancara yang sesuai dengan aturan baku penyampaian.



C.           Tujuan Penulisan
Merujuk kepada rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin kami capai adalah untuk mengetahui cara menganalisis suatu wacana dialog melalui media wawancara yang sesuai dengan aturan baku penyampaian.

D.           Manfaat Penulisan
                  a.          Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan pengertian wacana dialog
                  b.          Dapat mengetahui bagaimana cara menganalisis suatu wacana dialog
                  c.          Dan dapat mengapresiasi suatu wacana.

E.            Sistematika Penulisan
JUDUL, KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI, BAB I PENDAHULUAN, Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Sistematika Penulisan. BAB II PEMBAHASAN, BAB III PENUTUP, DAFTAR PUSTAKA















BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Wacana Dialog
Wacana dialog adalah wacana yang dibentuk oleh percakapan atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada  obrolan pembicaraan dalam telepon, wawancara, teks drama, dan sebagainya.

B.            Aspek Aspek Analisis Wacana Dialog
a.        Kerjasama Partisipan
Keterlibatan partisipan dalam membentuk suatu percakapan lengkap dengan unsur-unsur yang dibutuhkannya. Baik dalam bentuk tuturan maupun unsur pendukung bahasa.
Berdasarkan kerjasama partisipannya, terdapat semua unsur-unsur kerjasama dalam percakapan (maxim) yang dikemukakan oleh Grice, yaitu:
a)          Maxim Kuantitas, artinya kerjasama berbentuk jawaban yang belum pasti.
b)        Maxim Kualitas, artinya kerjasama dalam bentuk jawaban yang sesuai
c)         Maxim Relasi, artinya kerja sama dalam bentuk jawaban yang belum sesungguhnya, bergantung pada interpretasi.
d)        Maxim Cara, artinya kerja sama berbentuk jawaban yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena kebiasaan.

b.      Tindak Tutur ( Speech Act )
Richard mengartikan sebagai sesuatu yang kita lakukan dalam rangka berbicara atau suatu unit bahasa yang berfungsi di dalam sebuah percakpan.
a.       Berdasaran Jenis tindak tuturnya, ada dua jenis tindakan yang terdapat dalam wacana dialog di atas yaitu tindakan direktif dan  tindakan ekspresif, yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
a)      Tindakan Direktif, yaitu tuturan yang berfungsi  mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu, seperti mengusulkan, mendesak, dan memohon.
b)      Tindakan Ekspresif, yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
c)      Tindakan refresentatif, yaitu tindakan dari penutur yang berfungsi menetapkan atau menjelaskan sesuatu itu  seperti apa adanya.
d)     Tindakan komisif, yaitu tuturan yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu, seperti tindak berjanji, bernazar, bersumpah.
e)      Tindak deklaratif, yaitu tuturan yang berfungsi memantapkan , membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain.

b.      Berdasarkan Sifat hubungannya, wacana dialog di atas merupakan tindak tutur lokusi, yaitu tindak tutur yang dilakukan pembicara berhubungan dengan mengatakan sesuatu, seperti memutuskan, mendoakan, merestui, dan menuntut.
a)        Tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang dilakukan pembicara berkaitan dengan perbuatan dalam hubungan dengan mengatakan sesuatu.
b)        Tindak tutur paralokusi, yaitu tindak tutur yang mengakibatkan lawan bicara bertindak suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu.

c.       Berdasarkan Hakikat pemakaiannya, dalam wacana dialog ini hanya terdapat satu hakikat pemakaian tindak tutur, yaitu tindak tutur sopan santun (politeness). Tindak tutur sopan santun biasa dijumpai pada percakapan pertama antara orang yang baru berkenalan. Pada waktu itu kedua belah pihak menunjukan tindak dan saling menghormati dan menggunakan tutur yang seimbang pula. Juga bisa dijumpai pada pembicara yang berbeda status sosial.
a)        Tindak tutur penghormatan, biasanya ditemukan pada situasi percakapan kedua belah pihak yang berbeda status soaialnya, misalnya murid dengan guru, orang tua dengan anak.
b)        Tindak tutur tidak menghiraukan, yaitu tindak tutur yang tidak memperhatikan atau menganggap enteng. Tindak tutur ini dapat ditemukan pada dua macam situasi. Pertama karena tidak disengaja. Kedua karena sengaja

C.           Transkrip Dialog
Wawancara Luna Maya dengan Reporter TV One
Reporter             :  Selamat siang Mbak Luna?
Luna                  :  Siang.
Reporter             :  Pertama kali yang ingin saya tanyakan, mungkin bisa
   dijelaskan, bagaimana kronologisnya awal hingga sampai
   sekarang ini?
Luna                  : Ya, mungkin ada satu insiden kecil. Ya di satu insiden
yang terjadi pada saat sebelum moment Twit itu, ya gitu. Jadi ada satu insiden yang menurut saya cukup kecewa, bahkan sangat kecewa sampai itu terjadi, adalah terkenanya kamera ke anak kecilyang sedang saya gendong, yang sedang tertidur. Padahal saya sudah meminta, saya sudah menghimbau, sebentar ya, saya lagi mau mentidurkan, bukan menidurkan, saya mau menaruh anak kecil ini di mobil, yang sedang tertidur.
Jadi setelah itu, baru saya mau wawancara. Karena, ya ini anak kecil tanggung jawab saya. Saya harus melindunginya. Dan rasanya kurang etis, saya diwawancarai sedang menggendong anak kecil.
Mungkin kata-kata saya, yang bilang saya sebentar itu kurang digubris atau kurang adanya kesabaran, gitu. Sehingga terjadilah, ribet bangetlah. Saat itu benar-benar ribet karena kamera banyak, ini, dan saya sedang berjalan. Akhirnya anak yang sedang saya gendong itu terbentur kamera.
Reporter             :  Sampai terluka?
Luna                  :  Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu kan tidak
   boleh terjadi. Karena, ini kan sudah tanggung jawab saya.
   Kalau terluka akan lebih parah lagi.
Reporter             :  Itu yang kemudian Luna menjadi emosional
                              menumpahkan di Twiter?
Luna                  :  Sebenarnya ini akumulasi aja sih gitu. Karena banyak
kejadian-kejadian atau banyak pemberitaan-pemberitaan tentang saya yang sepihak sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini yang membuat saya merasa bahwa, kenapa kok seperti ini ya, kenapa seperti itu. Akhirnya itu menjadi satu akumulasi yang numpuk. Akhirnya, ya seperti ini.

D.           Analisis Wacana Dialog Wawancara Luna Maya dengan Reporter
Dalam menganalisis suatu wacana dialog, hanya ada beberapa aspek yang harus di perhatikan. Diantaranya :
a.        Kerjasama Partisipan
a)      Maxim Kuntitas, artinya kerjasama berbentuk jawaban yang belum pasti.
Contohnya pada percakapan berikut:
Reporter          :  Pertama kali yang ingin saya tanyakan, mungkin
   bisa dijelaskan,bagaimana kronologisnya awal
   hingga sampai sekarang ini?
Luna                : Ya, mungkin ada satu insiden kecil. Ya di satu
  insiden yang terjadi pada saat sebelum moment
  Twit itu, ya gitu.

b)      Maxim Kualitas, artinya kerjasama dalam bentuk jawaban yang sesuai.
Hal ini bisa dilihat pada percakapan berikut:
Reporter          :  Selamat siang, Mbak Luna?
Luna              :  Siang.

c)      Maxim Relasi, artinya kerja sama dalam bentuk jawaban yang belum sesungguhnya, bergantung pada interpretasi.
Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut ini:
Reporter          : Itu yang kemudian Luna menjadi emosional
  menumpahkan di Twiter?
Luna                            : Sebenarnya ini akumulasi aja sih gitu.
Karena banyak kejadian-kejadian atau banyak pemberitaan-pemberitaan tentang saya yang sepihak sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini yang membuat saya merasa bahwa, kenapa kok seperti ini ya, kenapa seperti itu. Akhirnya itu menjadi satu akumulasi yang numpuk. Akhirnya, ya seperti ini.

d)     Maxim Cara, artinya kerja sama berbentuk jawaban yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena kebiasaan.
Hal ini terdapat pada wacana dialog berikut:
Reporter          :  Sampai terluka?
Luna               :  Memang enggak.

b.        Tindak Tutur ( Speech Act )
Berdasaran Jenis tindak tuturnya, ada dua jenis tindakan yang terdapat dalam wacana dialog di atas yaitu tindakan direktif dan  tindakan ekspresif, yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
a)      Tindakan Direktif, yaitu tuturan yang berfungsi  mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu, seperti mengusulkan, mendesak, dan memohon.
Contohnya terdapat pada percakapan berikut:
Luna                : Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu
  kan tidak boleh      terjadi.
Reporter          : Itu yang kemudian Luna menjadi emosional
             menumpahkan di Twiter?
Dalam percakapan ini terlihat reporter sebagai pendengar, melakukan tindakan direktif, yaitu mendesak Luna agar mau berbicara mengenai kemarahannya di sebuah jaringan sosial Twitter.

b)      Tindakan Ekspresif, yaitu tindakan yang mencakup perasaan dan sikap.
Contohnya terdapat pada percakapan berikut:
Reporter          : Sampai terluka?
Luna                : Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu
  kan tidak boleh terjadi. Karena, ini kan sudah
  tanggung jawab saya. Kalau    terluka akan lebih
  parah lagi.
Dalam percakapan di atas, bisa dirasakan nada kemarahan dari Luna Maya.


Berdasarkan Sifat hubungannya, wacana dialog di atas merupakan tindak tutur lokusi, yaitu tindak tutur yang dilakukan pembicara berhubungan dengan mengatakan sesuatu, seperti memutuskan, mendoakan, merestui, dan menuntut.
Contoh penggalan wawancara
Luna                : Memang enggak, tapi ya bagaimanapun itu, itu
  kan tidak boleh terjadi.Karena, ini kan sudah
  tanggung jawab saya. Kalau terluka akan lebih
  parah lagi.
Dalam penggalan percakapan di atas bisa dilihat, adanya tindak tutur lokusi yang dilakukan pembicara berhubungan dengan mengatakan sebuah harapan agar insiden itu tidak terjadi lagi.

Berdasarkan Hakikat pemakaiannya, dalam wacana dialog ini hanya terdapat satu hakikat pemakaian tindak tutur, yaitu tindak tutur sopan santun (politeness). Tindak tutur sopan santun biasa dijumpai pada percakapan pertama antara orang yang baru berkenalan. Pada waktu itu kedua belah pihak menunjukan tindak dan saling menghormati dan menggunakan tutur yang seimbang pula. Juga bisa dijimpai pada pembicara yang berbeda status sosial.
Dalam wacana dialog di atas, tindak tutur sopan santun bisa kita lihat pada percakapan berikut ini:
Reporter          :  Selamat siang, Mbak Luna?
Luna                :  Siang.







BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Penyamapain pesan di era yang modern ini sudah sangat fariatif, baik itu media yang digunakan, seperti e-mail, sms, internet, dan pidato, maupun cara yang digunakan, seperti diskusi, ceramah, dsb. Cara penyampaian pesan yang sangat umum adalah melalui karya sastra seperti novel, lagu, maupun puisi. Namun, semua itu bersifat bebas karena terikat  dengadengan  statusnya  sebagai  karya  sastra  atau  arya  yang  bebas.  Berbeda dengan puisi, lagu, dan novel, Wacana muncul sebagai salah satu media penyampaian pesan, pendapat, maupun argumentasi yang memiliki aturan baku yang sangat jelas dan kompleks.
Wacana salah satu media yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan, karena sangat fleksibel dalam kegunaannya. Dalam penggunaan wacana ada banyak jenis dan macamnya. Ketika itu ditinjau dari segi media yang digunakan, ada wacana lisan dan ada wacana tertulis,  begitupun  ketika  wacana  ditinjadarsegi  cara pemaparannya,  adanya berbagai macam wacana ini, membuat wacana selalu digunakan oleh banyak orang dalam penyampaian pesan atau argumen mereka.
Kami berharap dengan adanya makalah yang membahas mengenai wacana ini, dapat memberikan pemahaman yang baik kepada para pembaca, sehingga bisa mengaplikasikan dan mengetahui wacana itu sendiri.

B.            Saran
Pada akhirnya kami akan memberikan saran, guna  membangun tatanan berbahasa yang lebih baik lagi, khususnya pada bagian Wacana itu sendiri.
a.       Penggunaan wacana haruslah sesuai dengan macam atau jenisnya.
b.      Penggunaan wacana harus selalu disesuaikan dengan konteksnya.
c.       Selalu menggunakan Bahasa Indonesia yang benar dan baik.









DAFTAR PUSTAKA

Evandra, Erato Dido. 2013. Pengertian Wacana. [Online]. Ditulis
               Diakses pada 25 Oktober 2016
Nazar, Asrul. 2013. Wacana Dialog. [Online]. Ditulis
               monolog.html. Diakses pada 25 Oktober 2016
Nur, Salmiani. 2013. Analisis Wacana. [Online]. Ditulis 
               monolog.html. Diakses pada 25 Oktober 2016
Flawless. 2011. Analisis Wacana Dialog. [Online]. Ditulis
               Diakses pada 25 Oktober 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar