Efek Blog

Selasa, 24 Januari 2017

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN

JUDUL
Pengaruh Teknik SQ3R dalam Membaca Cepat Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah Tahun Pelajaran 2016/2017

 I.      MASALAH
A.    Latar Belakang Masalah
Masalah umum yang sering dijumpai dalam pembelajaran bahasa indonesia adalah bagaimana mengembangkan pengertian atau pemahaman pengetahuan dalam diri siswa, serta bagaimana memilih atau menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan materi yang diajarkan. Dalam menghadapi tantangan perubahan terhadap metode pendidikan maupun model pembelajaran memerlukan ide kreatif keberanian dan kemampuan untuk penilaian diri dan didukung oleh kemauan untuk merubah. Oleh karena itu, disekolah guru hanya mengajar tanpa memperhatikan cara mengajarnya.
Membaca merupakan cara menjadi diri lebih tahu jika dibandingkan dengan sebelum membaca tidak ada orang yang buta huruf yang lebih pandai dari pada orang yang mau membaca dan tidak ada orang yang membaca lebih sedikit pandai dari pada orang yang lebih banyak membaca (Pusara dalam lumasre, 2008 : 3). Didalam bukunya soedarso, 2002 : 59 mengungkapkan para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem, salah satu yang banyak dikenal dan dipraktekan orang adalah SQ3R. Membaca cepat adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat dan cepat (Hernowo, 2005). Selanjutnya Surya, (2004 : 57) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah seluruh kecakapan hasil yang dicapai yang diperoleh melalui proses belajar berdasarkan tes belajar.
Tidak semua guru atau belum banyak guru yang memiliki kegairahan dalam menggunakan model-model pembelajaran yang kreatif dan unik yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir anak. Masih banyak diremukan dalam sebuah ruang kelas, guru yang menggunakan model pembelajaran konvensional seperti ceramah dalam banyak pokok bahasan. Dengan gayanya sendiri duduk dimeja guru sambil membuka buku sumber, kemudian guru tersebut memberikan ceramah mengenai pokok bahasan kepada siswa. Jika suatu model pembelajaran yang unik tidak diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, maka biasanya siswa akan merasa jenuh dan bosan karena dalam proses belajar mengajar yang mereka lalui dengan model pembelajaran yang sama akan tecipta kegaduhan dalam kelas yang diciptakan sendiri oleh siswa. Dilihat dari segi kepuasan secara emosional, suatu hasil menemukan sendiri nilai kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian berajak dari logika yang cukup sederhana itu tanpaknya akan memiliki hubungan yang erat bila dikaitkan dengan model pembelajaran. Dimana hasil pembelajaran merupakan hasil dari kreatifitas siswa sendiri, akan bersifat lebih tahan lama diingat oleh siswa, bila dibandingkan dengan sepenuhnya pemberian dari guru. Untuk menumbuhkan kebiasaan siswa secara kreatif agar bisa menemukan pengalaman belajarnya sendiri, berimplikasi pada model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru.
Dari uraian di atas, maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul ” Pengaruh Teknik SQ3R dalam Membaca Cepat Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah Tahun Pelajaran 2016/2017”

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.      Faktor apa sajakah yang menyebabkan menurunnya kemampuan membaca cepat siswa?
2.      Upaya apakah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa?
3.      Apakah siswa mampu untuk membaca cepat?
4.      Kendala apa saja yang mungkin dihadapi dalam pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah?
5.      Model pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung belum memberikan kontribusi yang maksimal terhadap kemampuan Membaca siswa,
6.      Bagaimana kegiatan pembelajaran Membaca Cepat untuk memahami isi cerpen yang dilakukan di sekolah?
7.      Apakah model pembelajaran mempengaruhi kemampuan membaca cepat dan memahami isi cerpen?
8.      Model pembelajaran apakah yang tepat untuk mengajar membaca cepat dalam memahami isi cerpen?
9.      Apakah terdapa pengaruh kemampuan membaca cepat dalam prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah?

C.    Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini masalah akan dibatasi pada pengaruh teknik SQ3R, hakikat membaca, jenis membaca dan prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah dibatasi sebagaimana di atas, maka penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut:
1.         Apa yang dimaksud dengan teknik SQ3R?
2.         Apa yang dimaksud dengan membaca cepat?
3.         Apa yang dimaksud dengan prestasi belajar?
4.         Bagaimana pengaruh teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah
E.     Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian, adalah sebagai berikut:
1.         Ingin mengetahui definisi teknik SQ3R
2.         Ingin mengetahui definisi membaca cepat
3.         Ingin mengetahui definisi prestasi belajar
4.         Ingin mengetahui pengaruh teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah

F.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga dan berguna bagi :
1.         Para guru bahasa Indonesia sebagai acuan dalam memvariasikan pembelajaran tentang teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa secara lebih baik.
2.         Para calon guru agar dapat mempersiapkan diri terhadap tantangan dan kondisi pembelajaran teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa.
3.         Para siswa agar dapat meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknik SQ3R dalam membaca cepat terhadap prestasi belajar siswa secara efektif.
4.         Peneliti, dapat menambah wawasan pengetahuan, dan pengalaman terutama dalam hal penelitian

II.            KAJIAN TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A.      Kajian Teori
1.    Hakikat Membaca
Beberapa ahli mengemukakan definisi yang berbeda, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai persamaan persepsi tentang membaca yaitu merupakan sebuah proses. Menurut Anderson (dalam Tarigan 1998:7), membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi yang mencangkup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca  untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media tulis, (Tarigan, 1998 : 9).
Allen dan Vallete (dalam Tarigan, 1998:94) mengemukakan, “membaca merupakan proses yang berkembang (a developmental process). Pada tahap awal membaca sebagai pengenalan simbol huruf cetak (word recognitif) yang terdapat pada sebuah wacana. Dari membaca per huruf, per kataper kalimat kemudian berlanjut membaca paragraf dan esay pendek”.
Menurut Hodgson (dalam Tarigan,1998:7),” membaca merupakan sutau keterampilan, proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata tulis.”
Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang aktif dan interaktif. Dengan pengetahuannya pembaca harus mengikuti jalan pemikiran penulis dan dengan daya kritisnya ditantang untuk dapat merespon, dengan jalan menyetujui atau tidak menyetujui gagasan atau ide yang dikemukakan oleh seorang penulis.
2.      Jenis Membaca
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan membaca, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Setiap keterampilan berhubungan erat dengan keterampilan yang lain. Tarigan mengemukakan jenis membaca sebagai berikut: (1) membaca diam dan membaca nyaring, (2) membaca telaah isi, (3) membaca telaah bahasa, (4) membaca sastra. Membaca telaah isi meliputi: membaca teliti, membaca pemhaman, membaca kritis dan membaca ide (Tarigan, 1998:11-13).
Membaca teliti membutuhkan keterampilan: (1) survey yang tepat untuk memperhatikan organisasi atau pendekatan umum, (2) membaca secara seksama dan membaca ulang parafraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat judul dan perincian-perincian penting, (3) membantu ingatan, mencatat fakta serta ide yang penting dapat menanamkan kesan yang mendalam pada ingatan kita (Tarigan, 1998:14).
Membaca paragraf memerlukan pelatihan diri mengenal pokok pikiran dan mengenal pengembangan pokok pikiran tersebut. Membaca pemahaman adalah jenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar atau norma kesusastraan, resensi, kritik, drama tulis dan pola fiksi. Kemampuan membaca pemahaman merupakan dasar membca kritis. Membaca kritis (membaca interpretative) bertujuan: (1)memahami maksud penulis, (2) memahami organisasi daar tulisan, (3) menilai penyajian penulis atau pengarang, (4) menerapkan prinsip kritis pada bacaan sehari-hari, (5) meningkatkan minat baca, kemampuan baca dan berpikir kritis, (6) mengetahui prinsip pemilihan bahan bacaan.
Membaca telaah bahasa terdiri dari membaca bahasa (foreigen language reading) danmembaca sastra (literaty reading). Tujuan utama telaah bahasa adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata serta memahami isi dan menikmati keindahannya.
Pembaca yang baik adalah pembaca yang: (1) tahu mengapa ia membaca, (2) memahami apa yang dibaca, (3) mengenal media cetak,bentuk-bentuk kontemporer media cetak seperti paperback media grafika, majalah, surat kabar dan sebagainya, (4) menguasai kecepatan membaca dan beberapa hal seperti membaca sekilas, memetik secara kasar tiga atau empat hal dalam satu halaman untuk memperoleh gambaran umum bagian  sebagai satu keseluruhan. Membaca cepat untuk mencari hal tertentu yang diinginkan. Membaca cepat yang baik adalah 800-1000 kata per menit. Membaca demi kesenangan, yaitu membaca dengan melewati hal yang kurang menarik dan membaca dengan lambat pada hal yang menarik. Membaca demi kesenangan yang baik rata-rata 500-600 kata dalam satu menit. Disamping itu perlu diketahui tentang membaca serius. Membaca secara serius rata-rata 300-599 kata dalam satu menit, Salisbury (dalam Tarigan, 1998:117-119).
3.      Membaca Cepat
Menurut Soedarso (2002:14) dalam membaca cepat terkandung pemahaman yang cepat pula. Pemahaman menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan kecepatan. Pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Menurut  Harry Sheffer (dalam Soedarso, 2002:13) pada umumnya orang yang membaca dapat mencapai kecepatan 350-500 kata per menit (kpm). Adapun membaca cepat yang baik menurut Soedarso (2002: 4-8) adalah:
1.         Meningggalkan kebiasaan membaca yang salah sejak kecil dan mengatasinya, seperti menggerakkan bibir diganti dengan diam, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan diganti dengan menggerakkan mata ke kiri da ke kanan, meninggalkan kebiasaan membaca dengan menunjukkan jari atau benda lain.
2.         Tidak melakukan regresi, yaitu kebiasaan kembali ke belakang untuk melihat kata atau frase yang baru dibaca.
3.   Melamun dapat diatasi dengn kosentrasi waktu membaca.
4.  Meninggalkan subvokalisasi, yaitu melafalkan kata-kata yang dibaca dalam batin, yang penting menangkap ide bukan mengingat simbol.

Cara mengukur kecepatan membaca (Sudarso, 2002: 14):
Menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dilakukan dengan jalan menghitung kata perbaris rata-rata dikalikan jumlah baris yang dibaca. Untuk menghitung kata perbaris rata-rata, hitung jumlah kata dalam lima baris sedudah itu dibagi lima hasilnya adalah kata perbaris kata-kata. Contoh:
Jumlah kata perbaris rata-rata : 11
Jumlah baris yang dibaca        : 60
Jumlah kata yang dibaca         : 11 x 60 = 660
Jika kita membaca 2 menit 10 detik, atau 130 detik maka kecepatan membaca kita adalah 660 kata/130 detik = 346 kata permenit. Menurut Sugiarto (2001)  faktor terakhir yang memhubungani siswa dalam membaca adalah penguasaan teknik membaca. Ada beberapa teknik membaca yang baik diantaranya teknik survey, reresite, review (SQ3R), scanning dan skimming.
Selanjutnya Miuecky dalam Sugiarto mengemukakan bahwa untuk melakukan membaca cepat sebuah  artikel maka:
a.         Membaca paragraf pertama dan kedua untuk mendapatkan overview dari sebuah artikel.
b.         Pada paragrapf tiga dan seterusnya mulailah tinggalkan bagian-bagian yang tidak diperlukan dan bacalah kalimat atau frase kunci untuk mendapatkan mind idea dan beberapa detail yang dibutuhkan.
c.         Bacalah seluruh paragraf  terakhir yang biasanya merupakan rangkuman dari artikel.
4.      Pengaruh Membaca Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Kita semua memahami fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi negara dan bahasa pengantar dalam lembaga pendidikan. Telah diuraikan pada bagian sebelumnya tentang pendapat para ahli dalam usaha meningkatkan pemahaman untuk menaikkan prestasi belajar.
Tarigan (1998:117-119) mengemukakan bahwa  pembaca yang baik adalah  pembaca yang mengetahui mengapa ia membaca, memahami yang dibaca, menguasai kecepatan membaca, membaca serius bahan yang penting, membaca cepat untuk mencari hal yang diinginkan. Soedarso mengemukakan bahwa membaca yang efisien adalah membaca untuk memahami suatu bacaan, perlu mengambil suatu langkah yang strategis seperti SQ3R, menemukan ide pokok, mengetahui ide pokok paragraph, membaca secara kritis, mengingat lebih lama dan membuat catatan. Dengan teknik membaca yang benar siswa dapat membaca dengan efisien.
Kemampuan membaca cepat sebagaimana yang tertera dalam judul, yang dimaksud adalah kemampuan membaca dengan cepat dalam memahami bahan bacaan. Yang diutamakan bukan kecepatannya melainkan pemahamannya. Dengan memberikan bimbingan membaca yang benar diharapkan siswa dapat dengan cepat memahami materi yang dibaca. Berdasarkan uraian di atas, membaca terbimbing dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajar
Sebagai mana telah diuraikan pada  bagaian sebelumnya, dengan didukung oleh pendapat dan temuan para ahli antara lain Soedarso, dalam membaca cepat terkandung didalamnya pemahaman yang cepat pula. Membaca cepat yang benar (terbimbing) dapat membantu mempermudah pemahaman dalam belajar. Menurut Guntur Tarigan dengan membaca cepat dan efesien, dia akan mendapatkan apa yang dicarinya.
Joni (1991) menyatakan bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di kelas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan secara optimal. Indikator-indikator kemampuan guru di kelas antara lain meliputi;
a.         Kemampuan Membuat Persiapan Mengajar dan Melaksanakan Evaluasi
Pengajaran merupakan suatu kegiatan atau upaya untuk membantu para siswa mengembangkan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Kegiatan pengajaran tidak sederhana seperti yang kita bayangkan tetapi cukup kompleks, karena itu kegitan ini membutuhkan perencanaan yang matang dan dibuat secara tertulis. Persiapan atau perencanaan merupkana langkah awal dar suatu kegitan berisi berbagai upaya mempersiapkan apa yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu persiapan atau perncanaan adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh seorang guru sebelum melakukan tugas pengajaran
Karti  (2003) menyatakan bahwa kesiapan guru dalam mengajar akan terlihat dalam perencanaan yang dibuat oleh guru, yang biasanya berwujud dalam satuan pelajaran. Hampir sama dengan pendapat di atas, Mursel dan Nasution (1995) menyatakan bahwa perencanaan adalah pemikiran artinya menggunakan prinsip-prinsip umum situasi-situasi yang khusus. Makin baik dipikirkan makin baik pula persiapan pelajaran. Dalam membuat suatu perencanaan harus diperhatikan situasi dan kondisi yang ada yaitu kemampuan guru, kemampuan siswa, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah, sehingga apa yang direncakan itu dapat dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2000) yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan guru dalam pengajaran adalah tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah guru rencanakan. Agar pelaksanaan pengajaran berjalan efisien dan efektif maka diperlukan perencanaan yang tersusun secara sistematis, dengan proses belajar mengajar yang lebih bermakna dan mengaktifkan siswa serta dirancang dalam suatu skenario yang jelas.  Ibrahim dan Syaodih (1996) menyatakan bahwa:
Apabila seorang guru akan mengajarkan setiap pokok bahasan kepada siswanya ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Untuk melihat apakah guru sudah siap untuk melaksanakan proses belajar mengajar dapat dilihat dari persiapan mengajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, penyusunan program pengajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran lebih lancar dan hasilnya lebih baik, karena dengan perencanaan atau persiapan guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik di kelas sebab apa yang dilaksanakannya sudah dipersiapkan lebih dahulu secara tertulis bukan materi yang muncul secara tiba-tiba.
Secara garis besar, perencanaan pengajaran mencakup kegiatan-kegiatan : merumuskan tujuan-tujuan apa yang dicapai, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapain tujuan tersebut, materi apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut. Menurut Usman (1992) dalam merencanakan suatu pelajaran hendaknya diperhatikan hubungan antara tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar dan penilaian karena ketiga aspek ini saling berkaitan.

b.      Kemampuan Menggunakan Metode dan Media Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak mampu berkonsentrasi untuk belajar dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberkan juga bermacam macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelinjensi memhubungani daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat atau lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki waktu yang bervariasi. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar perbedaan daya serap yang dialami siswa bisa diatasi. Dan salah satu strategis tersebut adalah pemilihan dan penggunaan metode dan media pembelajaran pembelajaran.
Roestiyah (2001) menyatakan bahwa guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar seara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi adalah harus menguasai teknik penyajian, atau biasanya disebut metode. Teknik penyajian pelajaran adalah alat atau cara yang harus dikuasai oleh guru untuk menyajikan materi pembelajaran kepada siswa dalam kelas, agar pelajaran yang diberikan itu dapat diterima dengan baik oleh siswa.. Dengan kata lain bahwa pengunaan metode adalah salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Terkait dengan hal tersebut di atas, maka guru dituntut untuk mampu menguasai dan memilih metode yang relevan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Djamarah dan Zain (dalam Lumasre, 2008:33) menyatakan bahwa metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh relavansi penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan. Pendapat tersebut di atas, semakin kita pahami bahwa penguasan metode secara baik dan disertai dengan pemilihan metode yang relavan dengan materi dan tujuan pembelajaran sangat diperlukan bagi guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Agar pemilihan metode pengajaran itu tidak keliru ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Menurut Surakhmad (2002),  faktor itu adalah:
Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai kendalanya, fasilitas dengan berbagai kualitasnya, dan pribadi guru dengan kemampuan profesional yang berbeda-beda.
Disamping itu dalam memilih dan menggunakan metode tentu saja guru harus mempertimbangkan media yang tepat agar metode pembelajaran dapat berfungsi secara efektif. Media pembelajaran adalah alat bantu yang bisa memperjelas materi pembelajaran sehingga tidak terjadi verbalisme.
Sebagai alat bantu media mempunyai fungsi yaitu memberikan arah yang positip untuk melicinkan jalan mencapai tujuan Dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik Namun demikian penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut kemauan dan selera guru tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan kriteria  kriteria yang dapat menunjang tercapainya tujuan Kreteria tersebut antara lain;.Sesuai dengan metode dan tujuan yang ingin dicapai, tepat untuk mendukumg isi pelajaran yang bersifat fakta konsep prinsip generalisasi, praktis, luwes dan bertahan, guru terampil menggunakannya, dan pengelompokan sasaran.

c.       Kemampuan Menguasai Materi Pembelajaran
Kemampuan guru dalam menyajikan materi pelajaran secara baik juga menjadi penyebab terjadinya suasana kelas kondusif. Kalau guru yang tidak mampu menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa memiliki kesempatan untuk bermain-main pada waktu guru mengajar. Akibatnya adalah suasana kelas terganggu.
Arikunto (1993) menjelaskan ada tiga faktor yang mempengaruhi penampilan guru dalam mengelola kelas, antara lain; pandangan guru yang bersangkutan terhadap profesi guru, bagaimana guru tersebut menyikapi tugasnya sebagai guru, dan seberapa kemampuan umum yang dimiliki oleh guru agar mendukung tugasnya sebagai guru.
Berdasarkan uraian di atas, maka penguasaan guru terhadap materi pembelajaran, akan membuat guru menjadi lebih percaya diri dihadapan siswa, sehingga dapat menarik minat siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan guru. Dengan demikian guru diharapkan bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna.

d.      Kemampuan Mengelola Kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Karena pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pembelajran secara efisien dan memungkinkan mereka untuk belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat mutlak bagi pembelajaran yang efektif.
Arikunto (1996) menyatakan pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
Kegiatan pengelolaan kelas ini merupakan segala upaya yang dapat diperbuat oleh guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2002) bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian pengelolaan kelas adalah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terciptanya proses belajar mengajar. Kondisi yang optimal dapat terjadi apabila guru mampu mengatur anak didik dan sarana pembelajaran dan mengendalikannya dalam suasana yang kondusif untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasanan disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa, sehingga melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti.
Arikunto (1996) mengatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak didik di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pendapat yang lengkap dan mendasar dikemukakan oleh Pidarta (1999) mengatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah: Membantu guru-guru mengerti sebab-sebab dasar problem perilaku, memungkinkan guru-guru mendiagnosis problem perilaku, membuat perilaku lebih dapat dipridiksi, dan memperbaiki kemampuan guru mengorganisir kelas.
Pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Karena dalam kelas itu terkumpul berbagai karakteristik yang bervariasi. Namun demikian guru tidak perlu merasa bosan mengelola kelas setiap kali mengajar. Karena gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan tidak mampunya guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi keguruan yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka keberhasilan proses belajar mengajar.
Pidarta, (1995) mengatakan masalah-masalah pengelolaan kelas berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1.        Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-  klik, misalnya pertentangan jenis kelamin.
2.        Tidak ada standar perilaku dalam kelompok misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi kesana-kemari, dan sebagainya.
3.        Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya.
4.        Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
5.        Mudah bereaksi negatif terganggu, misalnya didatangi  monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah, dan sebagainya.
6.        Moral rendah, permusuhan agresif, misalnya dalam lembga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang dan sebagainya.
7.        Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, maka guru dituntut untuk mampu mengatur siswa dengan baik dalam pembagian kelompok tidak mengelompokkan anak berdasarkan pintar dan bodoh, tetapi harus dicampur dalam satu kelompok ada yang pintar dan ada yang bodoh. Guru juga dituntut untuk berbuat adil dalam kelompok jangan sampai terjadi ada kelompok disayangi oleh guru dan ada kelompok yang kurang disenangi. Disiplin juga ditegakkan dalam kelompok, jangan sampai ada siswa yang diberi kebebasan dan ada pula siswa yang tidak diberi kebebasan. Karena semuanya itu menyebabkan suasana kelas tidak kondusif.
Hal penting yang harus mendapatkan perhatian dalam rangka pengelolaan kelas adalah upaya mengaktifkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa adalah salah satu komponen yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar, sebab siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan ingin meraih cita-cita dan tujuan itu secara optimal. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu sebagai penuntun dan pembimbing untuk mengantarkan siswa ke arah  pencapaian tujuan yang diharapkan.
Dalam proses itu guru harus mampu mengorganisir setiap kegiatan belajar mengajar dan menghargai anak didiknya sebagai suatu subjek yang memiliki bekal dan kemampuan. Pengertian guru semacam ini sangat penting, agar guru tidak bersikap semena-semena sebagai seorang atasan, dan sekaligus agar guru tidak segan-segan memberikan dorongan kepada siswanya.
Sriyono (1992) menyatakan Guru hendaklah mencintai murid-muridnya sebagaimana orang tua memikirkan anak-anaknya. Karena itu tidak benar kalau guru memarahi anak didiknya bukan pada tempatnya, apalagi mencemohkan atau menghina mereka karena kekurangan dan kebodohan. Yang bodoh harus dibimbing, ditolong dan diarahkan dengan penuh rasa kasih sayang dan yang pandai/maju didorong terus agar lebih berhasil lagi.
Perwujudan hubungan guru dan siswa harus lebih banyak berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan dari guru, agar siswa merasa bergairah, memiliki semangat, potensi dan kemampuan yang dapat meningkatkan harga dirinya. Dengan demikian siswa diharapkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Hal ini sesuai dengan sistem pengajaran modern yang dikenal dengan cara belajar siswa aktif, yang menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif
Guru hendaknya tidak lagi mengajar segi kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa, tetapi guru hendaknya mengajar untuk membelajarkan siswa dalam konteks bagaimana belajar mencari, menemukan dan meresapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Atau dengan kata lain bagaimana kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh guru dalam rangka mengaktifkan siswa dalam dalam proses belajar mengajar. Karena dengan demikian siswa dapat mengembangkan potensi atau bakat yang dia miliki menjadi kemampuan atau prestasi yang maksimal.
Proses melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan guru melalui bermacam-macam bentuk kegiatan, mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang mudah diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengar, menulis, meragamkan, menyuruh menyelesaikan soal. Sedangkan kegiatan psikis yang sulit diamati itu adalah mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan suatu konsep dengan konsep yang lain.
Namun demikian kegiatan tersebut harus dapat dipulangkan kepada suatu karakteristik yaitu keterlibatan intelektual, emosi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut terutama dapat dilakukan pada waktu kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan pengetahuan, pada saat siswa mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan, dan ketika siswa menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Selanjutnya dalam kaitannya dengan penelitian ini maka indikator-indikator kinerja guru yang dimaksud, antara lain meliputi kemampuan guru sebagaimana dijelaskan Joni (1991), yaitu:
a.         Kemampuan membuat persiapan mengajar dan melaksanakan evaluasi.
b.         Kemampuan menggunakan metode dan media pembelajaran
c.         Kemampuan menguasai materi pembelajaran
d.        Kemampuan mengelola kelas.

5.      Prestasi /Hasil Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah melakukan perbuatan belajar. Prestasi belajar merupakan nilai (angka) yang diperoleh siswa  setelah melakukan ulangan, tugas atau unjuk kerja yang dikembangkan sesuai dengan kurikulum dan gari-garis besar program pengajaran di SMK Mathla’ul Anwar Cibuah.
Menurut Nawawi (1989:100) prestasi belajar adalah  tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh  dari hasil tes sejumlah mteri pelajaran tertentu. Prestasi yang telah dicapai, sedangkan belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah prestasi yang telah dicapai oleh siswa dalam belajarnya Poerwodarminto (1980:768).
Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989:45), pengertian prestasi belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan yang bersifat mentalistik, ia juga menambahkan prestasi belajar adalah proses hubungan antara guru-siswa di dalam kelas  yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara bebas, pembentukan memori (ingatan) paada siswa dan pembentukan pemahaman pada siswa.
Seseorang akan berprestasi dalam belajar apabila ada keinginan untuk belajar. Mouly (dalam Lumasre, 2008:35) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang karena pengalaman. Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmeizi (dalam Lumasre, 2001:35), belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative permanent terjadi dari prestasi pengalaman.
Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989:14), dalam meningkatkan prestasi belajar perlu adanya perbaikan proses pembelajaran (metode pengajaran). Jadi kondisi pengajaran menentukan prestasi belajar siswa di kelas. Kondisi eksternal untuk belajar adalah  strategi pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Siswa dikatakan belajar dalam kegiatan pembelajaran jika belajar yang terjadi lebih besar daripada yang dapat terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali.dengan demikian dapat dipastikan  bahwa proses pembelajaran sesungguhnya terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru. Logikanya, pada proses pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada prestasi belajar. Seseorang akan berprestasi dalam belajar bila pada dirinya ada keinginan  untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu dengan cara melihat, mengamati, memahami sesuatu. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran dapat dlakukan dengan jalan membandingkan prestasi tes awal yang diperoleh siswa dengan prestasi tes akhir siswa setelah pembelajaran selesai. Bila prestasi tes khir skornya lebih tinggi dari skor tes awal berarti proses pembelajaran memberikan peningkatan pada prestasi belajar siswa. Perbedaan prestasi tes awal dan tes akhir menunjukkan skor yang nyata  sebagai akibat pembelajaran yang dilakukan (Prayitno, 1989:67).
Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan tersebut seperti pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
Hal ini telah dijelaskan oleh Nawawi (1989:102) yang memberikan batasan prestasi belajar dalam tiga tingkatan kemampuan, yaitu:
a.       Penguasaan materi pengetahuan berupa kemampuan menghafal, mengingat fakta-fakta yang terdapat dalam materi pelajaran, istilah-istilah, pengertian-pengertian, prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi yang bersifat teoritis.
b.      Pengertian dan pemahaman  tercermin dalam tiga bentuk tingkah laku, yaitu kemampuan menterjemahkan ke dalam bahasa sendiri, memahami suatu gagasan, kemampuan menafsirkan dan kemampuan menghubungkan  topik dengan contoh-contoh yang konkrit, diiringi dengan kemampuan menetapkan simpulannya.
c.       Penggunaan materi pengetahuan  berupa kemampuan mempergunakan hasil suatu gagasan/pendapat yang bersifat umum, prosedur dan metode, termasuk juga prinsip-prinsip teknik dalam situasi yang nyata.
d.      Tiga tingkatan kemampuan yang lain sebagai hasil belajar yang lebih kompleks adalah analisis, sintesis dan evaluasi.. Secara luas, prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh skor/nilai, prestasi belajar dapat juga berupa bakat dan keahlian.

6.      Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
1.      Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, artinya factor kemampuan anak yang dibawa sejak lahir. Pada dasarnya setiap anak sudah dibekali dengan berbagai kemampuan, bakat dan potensi. Kemampuan yang bersifat bawaan ini tidak dapat dirubah, tetapi hanya dapat dihubungani atau dkembangkan menurut batas yang dimilikinya. Orang tua dan guru hanya dapat mengembangkan potensi yang ada dengan jalan memberikan rangsangan dan dorongan berupa bimbingan dan pendidikan secukupnya. Jadi bimbingan dan pendidikan  yang dilaksanakan keluarga maupun di sekolah hanya merupakan proses untuk mengembangkan potensi-potensi pada diri anak.

Keberhasilan belajar anak dihubungani oleh berbagai faktor, yaitu:
a.       Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan jasmani anak, misalnya kesehatan. Pelajar yang tidak sehat, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Begitu juga anak yang badannya lemah dan sering pusing tidak akan tahan lama dalam belajar. Dalam keadaan ini , apabila anak dipaksa untuk belajar giat, anak tetap tidak dapat belajar dengan baik.
b.      Faktor Psikologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan rohaniah. Faktor ini mencakup intelegensi, perhatian, minat, bakat dan emosi. Intelegensi adalah faktor eksternal yang sangat besar hubungannya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan intelegensi anak memang rendah, maka anak akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Selain faktor intelegensi atau kecerdasan, faktor lain misalnya cacat mental yang dibawa sejak lahir seperti idiot, embilisitas, debilitas. Anak-anak yang tergolong embisil adalah anak-anak yang kecenderungannya sama dengan anak-anak normal 3-7 tahun. Anak-anak tersebut biasanya mengalami hambatan yang besar dalam usaha belajarnya. Perhatian merupakan factor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat menjamin  belajar yang baik, harus ada perhatian terhadap bahan yang dipelajari. Apabila pelajaran tidak menarik maka timbullah rasa bosan, malas dan belajarnya seperti dikejar-kejar, akibatnya hasil belajar menjadi menurun.

2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, artinya segala hubungan yang datang dari luar diri anak baik sebagai hasil pendidikan maupun hasil pergaulan.usaha pendidikan adalah menciptakan situasi yang membuat anak mau dan mampu untuk belajar. Adapun yang termasuk factor eksternal adalah faktor keluarga. Faktor keluarga  memiliki hubungan  besar terhadap prestasi belajar anak dibandingkan faktor pendidikan yang lain. Hal ini disebabkan hubungan yang bersifat kodrati antara anak dan orang tua. Alam keluarga adalah pendidikan yang pertama dan terpenting sejak timbulnya adapt kemanusiaan hingga kini (Suwarno, 1977:65).

B.     Kerangka Berfikir
Dalam suatu kelas terdapat siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) pada umumnya, sering dilakukan secara  klasikal dimana seluruh siswa dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok besar yang acapkali cara-cara mengajar guru tidak disesuaikan dengan kemampuan rata-rata siswa. Sehingga dengan demikian, siswa yang kurang pandai/lambat merasa tertinggal, dan siswa yang belajarnya cepat (pandai) terpaksa tertahan kemajuannya. Keadaan ini tentunya merupakan keadaan yang kurang menguntungkan bagi siswa yang pandai maupun siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang akhirnya berimbas pula kepada pencapaian hasil prestasi belajar siswa.
Agar anak yang lambat dapat dibantu, sedangkan anak yang cepat (pandai) kemampuannya bisa berkembang terus, maka anak yang pandai dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lambat, misalnya memberikan petunjuk cara mengerjakannya apabila temannya mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, usaha membantu siswa menanggulangi kesulitan belajar yang mereka hadapi khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan metode tutorial yakni kegiatan tutor sebaya yang diharapkan mampu membelajarkan siswa, serta memberikan motivasi dan pelayanan khusus pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Kegiatan tutor sebaya in dalam pembelajaran remidial ini merupakan usaha pencegahan atau merupakan usaha penyembuhan/perbaikan dari kesalahan atau kesulitan yang terjadi dalam proses belajar.
Adapun kerangka berfikir yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Jika kemampuan membaca cepat siswa diterapkan, maka akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang berbeda/hasil lebih tinggi.
2.      Jika kemampuan membaca cepat siswa tercapai maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar. 

C.    Pengajuan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan definisi dan penjelasan teori dalam kajian pustaka dan kerangka berpikir serta dengan mempertimbangkan komponen-komponen pokok yang telah diuraikan, dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1.         Penguasaan teknik SQ3R terhadap Siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah sangat baik.
2.         Kemampuan membaca cepat Siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah sangat baik. sangat baik.
3.         Terdapat hubungan antara penguasaan teknik SQ3R dengan kemampuan membaca cepat Siswa kelas X SMK Mathla’ul Anwar Cibuah, artinya semakin baik penguasaan teknik SQ3R maka semakin baik dan tinggi pula kemampuan membaca cepat siswa.

III.            METODOLOGI  PENELITIAN
A.    Tempat dan Waktu Penelitian
a.       Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMK Mathla’ul Anwar Cibuah-Rangkasbitung khususnya kelas X. TKJ. 1 Semester Genap Tahun Ajaran 2016/2017
b.      Waktu Penelitian
Pelaksanaan dilaksanakan pada tahun 2016/2017

B.     Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain “post test only control group design” yakni. menempatkan subyek penelitian ke dalam dua kelompok (kelas) yang dibedakan menjadi kategori kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan yaitu pembelajaran dengan model pembelajaran SQ3R (Survey. Question, Read, Recite, Review) dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional.

C.    Populasi dan Sampel
a.    Populasi
Maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Mathla’ul Anwar Cibuah, yang berjumlah 230 siswa dan terbagi menjadi lima kelas pararel sebagai kerangka sampel 
b.   Sampel
Sampel adalah sebagai bahan dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Peneliti menetapkan sampel pada penelitian ini, diambil dari kelas X.TKJ.1 dan X.TKJ.2
Subyek dalam penelitian ini ada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk menentukan kelas mana yang terpilih sebagai kelas eksperimen, dan kelas mana yang terpilih menjadi kelas kontrol, peneliti menggunakan pemilihan simple random sampling, simple random sampling ialah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkat) dalam anggota populasi tersebut. Maka yang terpilih menjadi subjek penelitian adalah kelas X.TKJ.1 dan X.TKJ.2. Kelas X.TKJ.2 sebagai kelas kontrol dan X.TKJ.1 sebagai kelas eksperimen.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, ditetapkan jumlah sampel sebanyak 40 orang. Jumlah ini melebihi batas minimal yang diperbolehkan dalam sebuah penelitian kuantitatif sebagai syarat dalam perhitungan statistik, yaitu 30 orang. (Singarimbun dan Sofian Efendi, 1989 : 171).

D.    Teknik Pengumpulan Data
Penelitian, disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. yaitu terjun langsung di lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Penelitian lapangan dilakukan dengan memberikan tes berupa tes objektif dan pemberian tugas


E.     Teknik Analisis Data
Analisis data dimaksudkan untuk melakukan pengujian hipotesis dan menjawab rumusan masalah yang diajukan, karena menggunakan skala interval dan rasio, maka sebelum melakukan pengujian harus dipenuhi persyaratan analisis terlebih dahulu, dengan asumsi bahwa data harus :
a.       Dipilih secara acak (random),
b.      Homogen artinya data yang dibandingkan (dikomparasikan) sejenis (bersifat homogen), maka perlu uji homogenitas,
c.       Normal artinya data yang dihubungkan berdistribusi normal, maka perlu uji normalitas
d.      berdistribusi normal, maka perlu uji normalitas,
e.       Bersifat linier artinya  data yang dihubungkan berbentuk garis linier maka perlu uji linieritas,
f.       Berpasangan artinya data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama, kalau salah satu tidak terpenuhi untuk persyaratan analisis korelasi atau regresi tidak dapat dilakukan (Ridwan, 2001: 115).
1.Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Chi- square sebagai berikut:
                             X2 =
Dimana :
X: harga kai kuadrat (chi square)
k   : kelas
i    : panjang kelas
fe   : frekuensi yang diharapkan
fo   : hasil pengamatan
Kriteria pengujiannya adalah:
a. Apabila X2 hitung ≤  X2 tabel , maka distribusi normal.
b. Apabila X2 hitung ≥ X2 tabel , maka tidak distribusi normal
2.Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua keadaan atau populasi. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher sebagai berikut:
    F =  =  dimana s2 =  ,
Kriteria pengujiannya adalah:
a. apabila F hitung ≤ F tabel, maka homogen.
b. apabila F hitung ≥ F tabel, maka tidak homogen.
3.Uji t (t-test)
Uji t satu sampel ini tergolong hipotesis deskriptif. Uji t ini terdapat dua rumus yang digunakan, yaitu :
a. Jika standar deviasi populasi tidak diketahui, maka yang digunakan ialah rumus thitung
  thitung =   dimana S = ,
Keterangan:
thitung      : harga yang dihitung dan menunjukkan nilai standar  deviasi dari distribusi t (table t)
           : nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil pengumpulan data
         : rata-rata nilai yang dihipotesiskan
S            : standar deviasi
n            : jumlah sampel penelitian
x2              : harga kai kuadrat (chi square)
b.   Namun apabila standar deviasi populasi diketahui Rumus statistik uji yang digunakan adalah sebagai berikut:
                                    Z =   
Keterangan:
Z           : statistik uji Z yang berdistribusi normal N(0,1)
σ           : standar deviasi populasi yang telah diketahui
Menentukan kriteria pengujian :
Jika – t tabel  ≤ t hitung , maka Ho  diterima dan Ha  ditolak
Jika + t table  ≥ t hitung , maka Hditerima dan Hditolak
F.     Statistik Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uji prasyarat analisis di atas, maka kriteria pengujian hipotesis yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut:
Ho  =  μ1 ≤  μ2
Ha   =  μ1  ˃  μ2
μ1: nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas eksperimen
μ2 : nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas control

IV.            DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2010. Model-model pembelajaran: mengembangkan professionalism guru ed-2. Jakarta : Rajawali pers.
S, Margono. 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Momon, Sudarman. 2013. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta : Rajawali Pers.
Marthen, Kanginan. 2001. Matematika untuk SMU Kelas 1. Bandung : Grafindo Media Pratama
Riduan. 2012. Dasar-dasar Statistika. Bandung : Alfabeta.
Poerwadarminto, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Herdian. 2012 : Pendekatan Pembelajaran. [Online]. Ditulis
                                

Diakses pada 24 Januari 2017