Efek Blog

Jumat, 13 November 2015

Ada Apa Dengannya

“Ahhhhhh… Ahhhhhhh… Wusss…Wusss…” sebuah teriakan yang terdengar sudah biasa berasal dari kelas sebuah sekolah, kelas 6A tepatnya. Hari ini Bu Yani wali kelas 6A memang sedang berulang tahun. Tapi teriakan itu tidak terdengar seperti teriakan kebahagian para siswa yang tengah memberi kejutan kepada Bu Yani yang berulang tahun saat itu. Teriakan itu lebih menggambarkan kengerian 27 anak ditambah 1 guru yang ada di kelas itu. Teriakan, tangisan, ketakutan bercampur dalam suasana kelas yang tak menyenangkan saat itu. Aneh? Tidak suasana seperti itu kerap terjadi beberapa tahun belakangan ini. Apa penyebabnya? Sebuah pertanyaan yang salah untuk ditanyakan, jika pertanyaan itu diungkapkan maka, mungkin ada ribuan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu, karena setiap hari ada saja kejadian yang membuat keributan di kelas itu. Pertanyaan yang tepat adalah siapa penyababnya? Jika pertanyaan itu diungkapkan, maka hanya “Dia” yang menjadi jawabannya. Anak yang berdiri dengan pongah sembari tertawa terpingkal-pingkal dengan penuh rasa kepuasan dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, saat 27 anak ditambah 1 guru di kelas itu berteriak ketakutan, ngeri, geli dan ekspresi lain yang mungkin ditimbulkan dari puluhan katak yang melompat kesana-kemari menempati seluruh sisi kelas itu.
Hari itu Bu Yani menyangka mendapat kejutan dari siswanya saat dia melihat sebuah kado tergeletak di atas meja kerjanya pagi itu. Dengan bangga dan penuh keharuan ia mengungkapkan kebahagiannya pada saat circle pagi sebelum pelajaran dimulai. “Kakak…” sebutan Bu Yani bagi seluruh siswanya. “Hari ini Ibu berulang tahun, dan ini adalah ulang tahun terbaik bagi Ibu, tahu kenapa?” tanya Bu Yani kepada seluruh murid-muridnya. Pertanyaan yang sebenarnya hanya sebuah basa-basi saja. “ketika masuk kelas, saat kalian belum datang Ibu menemukan kado ini tergeletak di meja Ibu, tanpa ada tulisannya. Tapi Ibu yakin kado ini diletakkan oleh seorang siswa di sini dan untuk Bu Yani yang saat ini berulang tahun, betul kan!” tegas Bu Yani kepada 28 orang muridnya yang sedang cicrle pagi saat itu. Para siswa hanya saling memandang, mereka berprasangka baik, menyangka bahwa teman yang mereka lihatlah yang memberi kejutan itu. Tapi, tak ada satupun siswa yang memandang kesatu orang, pandangan mereka liar, mencari kemungkinan siswa yang menaruhnya. Yang pasti anak ini menaruhnya pagi-pagi sekali, karena Bu Yani dikenal sebagai guru dengan disiplin yang bagus, dia pemegang rekor guru yang selalu datang pertama kali selama 1 bulan berturut-turut. Sang penaruh kado pastilah datang lebih pagi. Tak mungkin “Dia” karena dari 5 hari sekolah paling tidak dia terlambat 2 kali. Saat mereka saling pandang Bu Yani membuka kado itu, dengan penuh penasaran Bu Yani dan para siswanya mengira-ngira apa isi didalam kado sebesar kardus magicom itu. Ketika semua bungkusnya terbuka, ekspresi kegembiraan Bu Yani yang diharapakan oleh para siswa seketika sirna saat Bu Yani melongok isi kado tersebut, sontak Bu Yani menjerit “Ahhhhhhhhhhh……” teriakan panjang memekakan telinga keluar dari mulut mungil Bu Yani yang selalu mengeluarkan kalimat-kalimat Toyibah. Tapi kali ini mulut itu lupa untuk mengatakan kalimat selain teriakan histeris tersebut. Teriakan yang juga disertai oleh gerakan reflek menggulingkan kado yang menyebabkan tumpah ruahnya isi kado tersebut. Binatang pelompat yang menjijikan bagi sebagian besar orang ini melompat kesana-kemari mengisi tiap sudut dari kelas tersebut, dan itu yang menyebabkan 27 anak ditambah satu guru berteriak histeris “Ahhhhhh… Ahhhhhhh… Wusss…Wusss…” mereka berusaha mengusir, menjinakan serta menghalau laju lompatan kodok-kodok itu agar tidak semakin mendekati mereka.
“Dia” adalah seorang anak perempuan biasa, dengan jilbab dan baju serta rok panjang yang memang menjadi sebuah ketentuan berpakaian di sekolah itu. Wajahnya sendu, dengan kedua bibir yang selalu tertutup rapat tanpa celah. Sorot matanya tajam, melihat setiap orang dengan penuh rasa dendam. Kulit putih yang membalut tubuh tingginya tak dapat meredakan amarahnya. Sikapnya itu lebih mirip seekor simpanse yang selalu merapatkan kedua belah bibirnya sebagai tanda siap menyerang kepada setiap pengganggu yang datang. Amarahnya? Apa yang membuat dia marah? Tak ada kepastian soal itu. Yang jelas saat ini tak satu orang pun temannya mau mendekati dan berteman dengannya, karena tak ada kesejukan padanya, hanya ada kemarahan yang tergambar dari sorot matanya. Tak terhitung berapa kali orangtuanya menghadap Bu Yani dan kepala sekolah. “Saya tidak tahu harus bagaimana Bu, cerita yang Ibu sampaikan mengenai anak saya disekolah, bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di rumah.” Tutur ibunya. “Apa benar seperti itu Bu?” tegas Bu Yani. “Yang saya lihat, dia adalah anak yang manis, penurut, rajin beribadah. Kesehariannya dirumah hanya diisi oleh belajar dan ibadah, tak lebih. Dirumah ia masih sama seperti yang dulu. Apakah mungkin perubahannya karena masalah itu?” Tambah Ibunya. “Masalah apa itu Bu?” tanya Bu Yani dengan penuh penasaran. Butuh beberapa menit untuk ibunya menjawab pertanyaan dari Bu Yani, menunggu sampai air mata membasahi pipinya. Sambil mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, ibunya menjawab “ Ah, tidak bu, bukan apa-apa, saya sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun termasuk Ibu Yani.” Bu Yani hanya dapat diam mendengar itu, dalam hatinya dia sangat ingin tahu perihal permasalahan yang menerpa salah satu siswanya. Tapi, dia juga harus menghormati keputusan Ibu anak itu yang tidak ingin memberitahukannya pada siapapun. Rasa penasaran Bu Yani semakin menjadi dari semenjak itu.
Dalam setiap rapat yang membahas tentang perkembangan siswa di sekolah itu, Bu Yani selalu membela anak itu, anak yang selalu membuat onar, bukan hanya kepada teman sekelasnya. Tapi juga kepada adik-adik kelasnya. Dalam setiap rapat, selalu saja ada laporan tentang kejahilan anak itu. Mulai dari anak yang dikunci dikamar mandi, dirampas makanannya, ditakut takuti dengan cicak, kecoa, dan binatang menjijikan lainnya serta beragam kejahilan yang dilakukan anak itu setiap hari. Apapun permasalahannya Bu Yani selalu membela “Dia” anak yang tidak jarang menjahilinya juga. Bukan hanya Bu Yani yang membela sebenarnya. Sejujurnya sekolah itu sepantasnya berterima kasih pada anak itu, si anak pembuat masalah itu hampir selalu memenangkan setiap perlombaan yang diikutinya mulai lomba cerdas cermat, olimpiade sains, matematika dari tingkat gugus sampai provinsi. Bukan hanya yang bersifat kognitif tapi juga psikomotor. Tak jarang dia juga memenangkan berbagai kejuaran karate yang diadakan oleh berbagai instansi untuk beragam kesempatan. Deretan piala, piagam, dan sertifikat menghiasi lemari sekolah yang tertulis atas namanya. Bermacam penghargaan, predikat, serta bea siswa didapat dari hasil kerjanya tersebut. Lewat jasanya itu, kini sekolah tempatnya menempa ilmu menggema di Jakarta sebagai salah satu sekolah dengan prestasi segudang. Memang bukan hanya karena dia, tapi mengeluarkannya dari sekolah sama saja dengan menenggelamkan matahari yang tengah menyinari bumi. Memaksa kegemerlapan cahaya prestasi meredup karena tenggelamnya sang matahari. Tapi apa mau dikata, deretan prestasi seakan tanpa bekas ketika mengingat betapa jahilnya dia ahir-akhir ini. “Saya, tahu betapa jahilnya dia, dia sering melawan guru, dia sering membuat ulah saat belajar, tapi itu tidak saya temukan di pelajaran Al Quran.” Ungkap Pak Rahman guru Al Quran sekolah itu. “Dia begitu Kusyuk mendengarkan pembacaan Al Quran temannya, tak jarang dia juga meneteskan air mata saat membaca barisan huruf-huruf Al Quran, saya percaya anak ini mempunyai hati yang lembut.” Tambah Pak Rahman. Entah kenapa, anak ini memang sensitif dalam beberapa hal terutama tentang agama. Pernah juga dia menangis saat pak Zaenudin menjelaskan tentang kematian saat pelajaran PAI. Tak ada yang tahu tentang gejolak yang dialaminya saat ini. Dia mempunyai sebuah mushaf Al Quran yang selalu dipeluknya erat saat jam Al Quran berlangsung, kadang mushaf itu basah dengan air matanya yang jatuh ketika ia membacanya.
Hari ini, dia tidak masuk sekolah, suasana tenang menaungi sekolah itu. Tak ada informasi yang sampai ke Bu Yani mengenai dia hari ini. Satu hari, dua hari hingga satu minggu berlalu belum ada tanda-tanda ia masuk mengisi kosongnya kursi baris kedua deretan belakang yang biasanya ia gunakan. Seisi sekolah, teman kelas, terutama Bu Yani merasa kehilangan. Walaupun rindu dengan kejahilan dia, rindu dengan gelak tawanya saat pecah tangis seorang anak karena kejahilannya. “Kenapa kalian tak bersemangat hari ini?” tanya Bu Yani kepada siswanya. 27 orang siswa yang sedang circle pagi hanya bisa menunduk menanggapi pertanyaan Bu Yani, butuh beberapa lama sebelum akhirnya Jamal mulai bicara “Kami merasa ada yang berbeda akhir-akhir ini, suasana kelas yang biasanya dihiasi oleh teriakan, jeritan, ketakutan dan bermacam keributan, sekarang mendadak sepi.” Siswa lain masih diam, tetapi dari raut wajah mereka seperti mengiyakan perkataan Jamal. “Bukannya itu adalah sesuatu yang baik, kalian bisa lebih berkonsentrasi kan?” tegas Bu Yani “Justru itu, kami bosan dengan suasana yang kelas yang terlalu tenang, kami membutuhkan hiburan. Jujur saja bu ketika dia masuk sekolah kami menantikan aksi apa yang dia lakukan hari ini dan siapa yang menjadi korbannya ini hari, tapi kami kehilangan itu minggu ini. Tambah Jamal. Bu Yani seketika mengernyitkan dahinya, bingung, tak habis pikir dengan kelakuan siswa-siswanya “Aneh, kalian sungguh aneh, bukankah itu sebuah pelanggaran dan jika kalian menanti korbannya berarti kalian juga mendukung perbuatan nakalnya!” dengan nada tinggi Bu Yani melontarkan kalimatnya itu. “tidak juga seperti itu bu, tidak ada dendam bagi kami yang pernah dijahili, karena setelah ia mengerjai kami biasanya ada sesuatu yang ia berikan pada kami.” Bu Yani tambah bingung “Betul bu, pernah saya dijahili olehnya dengan menaruh ular plastik didalam tas saya, saya terkejut dan sempat menangis ketakutan, tapi setelah itu waktu sampai rumah ada sebuah boneka beruang warna pink yang memang saya inginkan di dalam tas saya disertai surat permohonan maaf darinya.” Cerita Fitri. Satu per satu siswa kelas itu menceritakan betapa jahilnya dia dan betapa baiknya dia, sampai tak terasa air mata menggenang dan mengalir berjatuhan membasahi lantai kelas itu. Bu yani takjub, bangga tanpa bisa menahan air mata, betapa siswa yang selama ini djuluki pembuat onar, ternyata tak sepenuhnya benar.
Bu Yani teringat dengan kejahilan yang pernah menimpanya, seketika ia mencari kotak kado yang pernah menjadi tempat sembunyi puluhan katak, beberapa waktu lalu. Benar saja, ternyata ada sepucuk surat didalamnya ““Bu Yani selamat ulang tahun, maaf atas ulahku hari ini. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku ingin seperti katak yang bisa melompati setiap kesulitan di depannya, tapi katak dijauhi karena menjijikan, itulah alasan orang menjauhinya, begitupun denganku saat ini yang dijauhi bahkan dimusuhi tapi ada alasan dibalik kelakuanku saat ini.” Apa maksudnya? Mengapa dia melakukan itu dan kemudian menuliskan ini?”
Puluhan sudah SMS dikirim Bu Yani kepada ibunya dengan maksud menanyakan kabar kemana putrinya yang sudah seminggu ini tak masuk sekolah sambil ditambah pesan dari teman-temannya yang sudah begitu rindu padanya. Tapi tak pernah ada jawaban dari ibunya. Setiap hari Bu Yani mencoba menelpon ibunya tapi tak pernah ada jawaban dari nomor tujuan. Sampai bunyi handphone Bu Yani bergetar saat jam mulai berlari menunjuk waktu tengah malam. Bu Yani melihat sebuah pesan dari nomor yang dinantikan selama ini. “Aslamualaikum, maaf saya tidak membalas SMS dan telp ibu. Tapi saya harap ibu bisa datang ke RS Medika ruang ICU.” Bu Yani seketika kaget menerima pesan itu, tanpa pikir panjang ia bergegas menuju tempat yang disebutkan dalam pesan itu. Dalam waktu 15 menit Bu Yani sampai di rumah sakit itu. Rasa kaget yang sedari awal menggelayutinya bertambah berlipat-lipat saat ia melihat seorang anak terkulai lemah terbaring menempati tempat tidur di sudut ruang ICU rumah sakit itu dengan bermacam alat medis yang mengelilinginya. Tanpa sepenuhnya mengerti, perlahan, gemetar, menahan tangis yang hampir pecah Bu Yani menghampiri anak lemah itu, dalam hatinya ia bertanya inikah anak jahil itu, si pembuat onar itu, anak yang seminggu ini tak menempati tempat duduknya di barisan kedua deretan belakang. Apakah dia yang saat ini terbaring lemas dengan selang oksigen membantu nafasnya, dengan selang infus mencengkram nadinya, dengan alat pendeteksi denyut jantung memberi informasi bahwa ia memang tak bergairah untuk membuat ulah. Dipandanginya dalam wajah anak itu, disapu keningnya dari helaian rambut yang menghalangi, wajah Bu Yani hampir beradu dengannya, dengan lirih menahan sedih Bu Yani berkata “Tiara, kenapa?” hanya dua kata yang mampu tecurah dari bibir gemetarnya. Panggilan lirih yang baru ini terdengar karena biasanya orang memanggilnya dengan penuh kesal “TIA…RA…” tapi kali ini panggilan itu penuh haru. Tak ada jawaban Tiara dari pertanyaan Bu Yani hanya bunyi detak jantung yang terdeteksi dari sebuah alat yang terletak di kanan ranjangnya.
Bu yani tak kuasa menahan tangis menyaksikan seorang siswa yang tak pernah menyerah saat pertarungan karate, kali ini harus mengalah oleh penyakit yang dideritanya. Pertanyaan Bu Yani masih belum terjawab, sampai akhirnya Ibu Tiara memaparkan semua tentangnya. Sebuah cerita yang tak bisa ditanggapi dengan balas kata, hanya tangisan yang sanggup Bu Yani berikan. Tiara sebenarnya anak yang baik, berprestasi seperti yang kita kenal selama ini. “Tapi sejak kelas 4 kondisi fisiknya terus menurun, sampai akhirnya Tiara diperiksa oleh ahli penyakit dalam. Betul saja, sakit kepala yang selama ini dikeluhkannya, ternyata bersumber dari kanker yang perlahan menggerogoti otaknya. Kami sudah berusaha untuk menyembunyikan darinya. Tapi kami tak kuasa untuk menyimpannya karena setiap hari ia terus bertanya tentang penyakitnya, ia pun tahu bahwa umurnya tak bisa lebih dari setahun lagi. Tapi Tiara tak mau dikasihani, tak mau diperlakukan seperti orang sakit. Mungkin itu yang membuat sifatnya berubah jahil ketika disekolah. Tapi bagi saya ia masih seperti yang dulu, anak yang tak mau dianggap lemah, anak yang tak mau dianggap menyerah, dan yang pasti anak yang tak mau dianggap kalah bahkan oleh garis nasib. Jika nasib itu berupa lawannya di pertandingan karate, saya yakin dia akan berusaha untuk menjatuhkannya dan kemudian memenangkan pertandingan itu.” Cerita Ibunya yang hanya sanggup disela oleh sedu tangis Bu Yani. Dalam hatinya cerita itu cukup untuk menjawab pertanyaannya “Mengapa?” mengapa sifatnya berubah, mengapa ia begitu liar, tetapi begitu syahdu saat pelajaran Al Quran. Mengapa ia tak bisa tenang saat belajar, tetapi menangis saat PAI membahas kematian. Hanya tangisan penyesalan yang sanggup Bu Yani berikan, mengapa ia tak bisa membaca gelagat perubahan sifat dari siswanya yang membutuhkan. Dia begitu membutuhkan perhatian, hangat pelukan, dekapan kasih sayang. Namun Bu Yani hanya bisa menyesali saat amarahnya meledak ketika puluhan katak keluar dari sebuah kotak. Tanpa sebenarnya ia tahu ada surat pemintaan maaf yang ia taruh didasar kotak.
Pagi saat circle Bu Yani menceritakan apa yang dialaminya semalam, tentang si Jahil yang saat ini terbaring diruang ICU sebuah rumah sakit. Tak berapa lama mereka sepakat untuk menjenguk Tiara. Kini mereka tengah menghadapi seorang anak yang pernah begitu dicintai kemudian menjadi anak yang begitu dibenci. Dia yang saat ini terkulai lemah di sudut ruang ICU. Isakan, tangisan dan tetesan air mata memnuhi suasana ruangan itu. 27 orang anak ditambah Bu yani datang menjenguk Tiara. Tiara hanya bisa berbaring menyaksikan kesungguhan doa disertai air mata dari kawan-kawannya. Tiara ingin berucap banyak, tapi hanya simpul lipatan telapak tangan yang bertemu di dadanya sebagai simbol maaf yang dapat dilakukannya. Dijulurkan tangan lemahnya ke arah Bu Yani, dengan lemah dan gemetar seperti tadi malam menghampiri Tiara “Kenapa nak?” sambil mengusap air mata yang memang sedari tadi lancar meluncur dari kelopak matanya. Tanpa banyak kata Tiara hanya memberikan sebuah mushaf Al Quran yang selama ini menemaninya, mushaf yang terkadang basah oleh air mata saat ia membaca, dengan lemah ia berkata “Kenanglah aku dengan membacanya.” Anggukan kecil Bu Yani sanggup membuat kedua belah bibirnya yang selama ini gersang tanpa senyuman, seketika sejuk tersiram kebahagian dari seorang anak yang membutuhkan bimbingan kematian. “Pergilah nak, pergilah dengan senyuman itu, pergilah dengan menyebut nama Tuhanmu, pergilah….” kata Bu Yani dengan iringan iskan tangis yang mendalam. Gengaman erat tangan keduanya, terlepas karena nyawa salah seoranya telah terbawa oleh iringan malaikat yang mungkin sudah menunggunya. Seketika itu, alat pendeteksi jantung tak sanggup meraba denyut terkecil dari gerakan jantungya, oksigen tak lagi keluar masuk dari hidungnya, matanya tertutup rapat. Sang pemenang, kini tumbang oleh kenyataan. Kenyatan yang menggambarkan kebesaran Tuhan “KULLU NAFSIN DZA IQATUL MAUT” setiap yang bernyawa pasti akan mati. Innalillahi wa’inailliahi rojiun, selamat jalan Tiara, segala apa yang engkau perbuat akan menjadi sebuah kenangan yang indah bagi kami, segala yang engkau alami menjadi sebuah inspirasi buat kami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar