“Ahhhhhh…
Ahhhhhhh… Wusss…Wusss…” sebuah teriakan yang terdengar sudah biasa berasal dari
kelas sebuah sekolah, kelas 6A tepatnya. Hari ini Bu Yani wali kelas 6A memang
sedang berulang tahun. Tapi teriakan itu tidak terdengar seperti teriakan
kebahagian para siswa yang tengah memberi kejutan kepada Bu Yani
yang berulang tahun saat itu. Teriakan itu lebih menggambarkan kengerian
27 anak ditambah 1 guru yang ada di kelas itu. Teriakan, tangisan, ketakutan
bercampur dalam suasana kelas yang tak menyenangkan saat itu. Aneh? Tidak
suasana seperti itu kerap terjadi beberapa tahun belakangan ini. Apa
penyebabnya? Sebuah pertanyaan yang salah untuk ditanyakan, jika pertanyaan itu
diungkapkan maka, mungkin ada ribuan jawaban yang tepat untuk menjawab
pertanyaan itu, karena setiap hari ada saja kejadian yang membuat keributan di
kelas itu. Pertanyaan yang tepat adalah siapa penyababnya? Jika pertanyaan itu
diungkapkan, maka hanya “Dia” yang menjadi jawabannya. Anak yang berdiri dengan
pongah sembari tertawa terpingkal-pingkal dengan penuh rasa kepuasan dan tanpa
rasa bersalah sedikitpun, saat 27 anak ditambah 1 guru di kelas itu berteriak
ketakutan, ngeri, geli dan ekspresi lain yang mungkin ditimbulkan dari puluhan
katak yang melompat kesana-kemari menempati seluruh sisi kelas itu.
Hari itu
Bu Yani menyangka mendapat kejutan dari siswanya saat dia melihat sebuah kado
tergeletak di atas meja kerjanya pagi itu. Dengan bangga dan penuh keharuan ia
mengungkapkan kebahagiannya pada saat circle pagi sebelum pelajaran dimulai.
“Kakak…” sebutan Bu Yani bagi seluruh siswanya. “Hari ini Ibu berulang tahun,
dan ini adalah ulang tahun terbaik bagi Ibu, tahu kenapa?” tanya Bu Yani kepada
seluruh murid-muridnya. Pertanyaan yang sebenarnya hanya sebuah basa-basi saja.
“ketika masuk kelas, saat kalian belum datang Ibu menemukan kado ini tergeletak
di meja Ibu, tanpa ada tulisannya. Tapi Ibu yakin kado ini diletakkan oleh
seorang siswa di sini dan untuk Bu Yani yang saat ini berulang tahun, betul
kan!” tegas Bu Yani kepada 28 orang muridnya yang sedang cicrle pagi saat itu. Para
siswa hanya saling memandang, mereka berprasangka baik, menyangka bahwa teman
yang mereka lihatlah yang memberi kejutan itu. Tapi, tak ada satupun siswa yang
memandang kesatu orang, pandangan mereka liar, mencari kemungkinan siswa yang
menaruhnya. Yang pasti anak ini menaruhnya pagi-pagi sekali, karena Bu Yani
dikenal sebagai guru dengan disiplin yang bagus, dia pemegang rekor guru yang
selalu datang pertama kali selama 1 bulan berturut-turut. Sang penaruh kado
pastilah datang lebih pagi. Tak mungkin “Dia” karena dari 5 hari sekolah paling
tidak dia terlambat 2 kali. Saat mereka saling pandang Bu Yani membuka kado
itu, dengan penuh penasaran Bu Yani dan para siswanya mengira-ngira apa isi
didalam kado sebesar kardus magicom itu. Ketika semua bungkusnya terbuka,
ekspresi kegembiraan Bu Yani yang diharapakan oleh para siswa seketika sirna
saat Bu Yani melongok isi kado tersebut, sontak Bu Yani menjerit
“Ahhhhhhhhhhh……” teriakan panjang memekakan telinga keluar dari mulut mungil Bu
Yani yang selalu mengeluarkan kalimat-kalimat Toyibah. Tapi kali ini mulut itu
lupa untuk mengatakan kalimat selain teriakan histeris tersebut. Teriakan yang
juga disertai oleh gerakan reflek menggulingkan kado yang menyebabkan tumpah
ruahnya isi kado tersebut. Binatang pelompat yang menjijikan bagi sebagian
besar orang ini melompat kesana-kemari mengisi tiap sudut dari kelas tersebut,
dan itu yang menyebabkan 27 anak ditambah satu guru berteriak histeris
“Ahhhhhh… Ahhhhhhh… Wusss…Wusss…” mereka berusaha mengusir, menjinakan serta menghalau
laju lompatan kodok-kodok itu agar tidak semakin mendekati mereka.
“Dia”
adalah seorang anak perempuan biasa, dengan jilbab dan baju serta rok panjang
yang memang menjadi sebuah ketentuan berpakaian di sekolah itu. Wajahnya sendu,
dengan kedua bibir yang selalu tertutup rapat tanpa celah. Sorot matanya tajam,
melihat setiap orang dengan penuh rasa dendam. Kulit putih yang membalut tubuh
tingginya tak dapat meredakan amarahnya. Sikapnya itu lebih mirip seekor
simpanse yang selalu merapatkan kedua belah bibirnya sebagai tanda siap
menyerang kepada setiap pengganggu yang datang. Amarahnya? Apa yang membuat dia
marah? Tak ada kepastian soal itu. Yang jelas saat ini tak satu orang pun
temannya mau mendekati dan berteman dengannya, karena tak ada kesejukan
padanya, hanya ada kemarahan yang tergambar dari sorot matanya. Tak terhitung
berapa kali orangtuanya menghadap Bu Yani dan kepala sekolah. “Saya tidak tahu
harus bagaimana Bu, cerita yang Ibu sampaikan mengenai anak saya disekolah,
bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di rumah.” Tutur ibunya. “Apa benar
seperti itu Bu?” tegas Bu Yani. “Yang saya lihat, dia adalah anak yang manis,
penurut, rajin beribadah. Kesehariannya dirumah hanya diisi oleh belajar dan
ibadah, tak lebih. Dirumah ia masih sama seperti yang dulu. Apakah mungkin
perubahannya karena masalah itu?” Tambah Ibunya. “Masalah apa itu Bu?” tanya Bu
Yani dengan penuh penasaran. Butuh beberapa menit untuk ibunya menjawab
pertanyaan dari Bu Yani, menunggu sampai air mata membasahi pipinya. Sambil
mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, ibunya menjawab “ Ah, tidak
bu, bukan apa-apa, saya sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun
termasuk Ibu Yani.” Bu Yani hanya dapat diam mendengar itu, dalam hatinya dia
sangat ingin tahu perihal permasalahan yang menerpa salah satu siswanya. Tapi,
dia juga harus menghormati keputusan Ibu anak itu yang tidak ingin
memberitahukannya pada siapapun. Rasa penasaran Bu Yani semakin menjadi
dari semenjak itu.
Dalam
setiap rapat yang membahas tentang perkembangan siswa di sekolah itu, Bu Yani
selalu membela anak itu, anak yang selalu membuat onar, bukan hanya kepada
teman sekelasnya. Tapi juga kepada adik-adik kelasnya. Dalam setiap rapat,
selalu saja ada laporan tentang kejahilan anak itu. Mulai dari anak yang
dikunci dikamar mandi, dirampas makanannya, ditakut takuti dengan cicak, kecoa,
dan binatang menjijikan lainnya serta beragam kejahilan yang dilakukan
anak itu setiap hari. Apapun permasalahannya Bu Yani selalu membela “Dia” anak
yang tidak jarang menjahilinya juga. Bukan hanya Bu Yani yang membela
sebenarnya. Sejujurnya sekolah itu sepantasnya berterima kasih pada anak itu,
si anak pembuat masalah itu hampir selalu memenangkan setiap perlombaan yang
diikutinya mulai lomba cerdas cermat, olimpiade sains, matematika dari tingkat
gugus sampai provinsi. Bukan hanya yang bersifat kognitif tapi juga
psikomotor. Tak jarang dia juga memenangkan berbagai kejuaran karate yang
diadakan oleh berbagai instansi untuk beragam kesempatan. Deretan piala, piagam,
dan sertifikat menghiasi lemari sekolah yang tertulis atas namanya. Bermacam
penghargaan, predikat, serta bea siswa didapat dari hasil kerjanya tersebut.
Lewat jasanya itu, kini sekolah tempatnya menempa ilmu menggema di Jakarta
sebagai salah satu sekolah dengan prestasi segudang. Memang bukan hanya karena
dia, tapi mengeluarkannya dari sekolah sama saja dengan menenggelamkan matahari
yang tengah menyinari bumi. Memaksa kegemerlapan cahaya prestasi meredup karena
tenggelamnya sang matahari. Tapi apa mau dikata, deretan prestasi seakan tanpa
bekas ketika mengingat betapa jahilnya dia ahir-akhir ini. “Saya, tahu betapa
jahilnya dia, dia sering melawan guru, dia sering membuat ulah saat belajar,
tapi itu tidak saya temukan di pelajaran Al Quran.” Ungkap Pak Rahman guru Al
Quran sekolah itu. “Dia begitu Kusyuk mendengarkan pembacaan Al Quran temannya,
tak jarang dia juga meneteskan air mata saat membaca barisan huruf-huruf Al
Quran, saya percaya anak ini mempunyai hati yang lembut.” Tambah Pak Rahman.
Entah kenapa, anak ini memang sensitif dalam beberapa hal terutama tentang
agama. Pernah juga dia menangis saat pak Zaenudin menjelaskan tentang kematian
saat pelajaran PAI. Tak ada yang tahu tentang gejolak yang dialaminya saat ini.
Dia mempunyai sebuah mushaf Al Quran yang selalu dipeluknya erat saat jam Al
Quran berlangsung, kadang mushaf itu basah dengan air matanya yang jatuh ketika
ia membacanya.
Hari
ini, dia tidak masuk sekolah, suasana tenang menaungi sekolah itu. Tak ada
informasi yang sampai ke Bu Yani mengenai dia hari ini. Satu hari, dua hari
hingga satu minggu berlalu belum ada tanda-tanda ia masuk mengisi kosongnya
kursi baris kedua deretan belakang yang biasanya ia gunakan. Seisi sekolah,
teman kelas, terutama Bu Yani merasa kehilangan. Walaupun rindu dengan
kejahilan dia, rindu dengan gelak tawanya saat pecah tangis seorang anak karena
kejahilannya. “Kenapa kalian tak bersemangat hari ini?” tanya Bu Yani kepada
siswanya. 27 orang siswa yang sedang circle pagi hanya bisa menunduk menanggapi
pertanyaan Bu Yani, butuh beberapa lama sebelum akhirnya Jamal mulai bicara
“Kami merasa ada yang berbeda akhir-akhir ini, suasana kelas yang biasanya
dihiasi oleh teriakan, jeritan, ketakutan dan bermacam keributan, sekarang
mendadak sepi.” Siswa lain masih diam, tetapi dari raut wajah mereka seperti
mengiyakan perkataan Jamal. “Bukannya itu adalah sesuatu yang baik, kalian bisa
lebih berkonsentrasi kan?” tegas Bu Yani “Justru itu, kami bosan dengan suasana
yang kelas yang terlalu tenang, kami membutuhkan hiburan. Jujur saja bu ketika
dia masuk sekolah kami menantikan aksi apa yang dia lakukan hari ini dan siapa
yang menjadi korbannya ini hari, tapi kami kehilangan itu minggu ini. Tambah
Jamal. Bu Yani seketika mengernyitkan dahinya, bingung, tak habis pikir dengan
kelakuan siswa-siswanya “Aneh, kalian sungguh aneh, bukankah itu sebuah
pelanggaran dan jika kalian menanti korbannya berarti kalian juga mendukung
perbuatan nakalnya!” dengan nada tinggi Bu Yani melontarkan kalimatnya itu.
“tidak juga seperti itu bu, tidak ada dendam bagi kami yang pernah dijahili,
karena setelah ia mengerjai kami biasanya ada sesuatu yang ia berikan pada
kami.” Bu Yani tambah bingung “Betul bu, pernah saya dijahili olehnya dengan
menaruh ular plastik didalam tas saya, saya terkejut dan sempat menangis
ketakutan, tapi setelah itu waktu sampai rumah ada sebuah boneka beruang warna
pink yang memang saya inginkan di dalam tas saya disertai surat permohonan maaf
darinya.” Cerita Fitri. Satu per satu siswa kelas itu menceritakan betapa
jahilnya dia dan betapa baiknya dia, sampai tak terasa air mata menggenang dan
mengalir berjatuhan membasahi lantai kelas itu. Bu yani takjub, bangga tanpa
bisa menahan air mata, betapa siswa yang selama ini djuluki pembuat onar,
ternyata tak sepenuhnya benar.
Bu Yani teringat
dengan kejahilan yang pernah menimpanya, seketika ia mencari kotak kado yang
pernah menjadi tempat sembunyi puluhan katak, beberapa waktu lalu. Benar saja,
ternyata ada sepucuk surat didalamnya ““Bu Yani selamat ulang tahun, maaf atas
ulahku hari ini. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku ingin seperti katak
yang bisa melompati setiap kesulitan di depannya, tapi katak dijauhi karena
menjijikan, itulah alasan orang menjauhinya, begitupun denganku saat ini yang
dijauhi bahkan dimusuhi tapi ada alasan dibalik kelakuanku saat ini.” Apa
maksudnya? Mengapa dia melakukan itu dan kemudian menuliskan ini?”
Puluhan
sudah SMS dikirim Bu Yani kepada ibunya dengan maksud menanyakan kabar kemana
putrinya yang sudah seminggu ini tak masuk sekolah sambil ditambah pesan dari
teman-temannya yang sudah begitu rindu padanya. Tapi tak pernah ada jawaban
dari ibunya. Setiap hari Bu Yani mencoba menelpon ibunya tapi tak pernah ada
jawaban dari nomor tujuan. Sampai bunyi handphone Bu Yani bergetar saat jam
mulai berlari menunjuk waktu tengah malam. Bu Yani melihat sebuah pesan dari
nomor yang dinantikan selama ini. “Aslamualaikum, maaf saya tidak membalas SMS
dan telp ibu. Tapi saya harap ibu bisa datang ke RS Medika ruang ICU.” Bu
Yani seketika kaget menerima pesan itu, tanpa pikir panjang ia bergegas menuju
tempat yang disebutkan dalam pesan itu. Dalam waktu 15 menit Bu Yani sampai di
rumah sakit itu. Rasa kaget yang sedari awal menggelayutinya bertambah
berlipat-lipat saat ia melihat seorang anak terkulai lemah terbaring menempati
tempat tidur di sudut ruang ICU rumah sakit itu dengan bermacam alat medis yang
mengelilinginya. Tanpa sepenuhnya mengerti, perlahan, gemetar, menahan tangis
yang hampir pecah Bu Yani menghampiri anak lemah itu, dalam hatinya ia bertanya
inikah anak jahil itu, si pembuat onar itu, anak yang seminggu ini tak
menempati tempat duduknya di barisan kedua deretan belakang. Apakah dia yang
saat ini terbaring lemas dengan selang oksigen membantu nafasnya, dengan selang
infus mencengkram nadinya, dengan alat pendeteksi denyut jantung memberi
informasi bahwa ia memang tak bergairah untuk membuat ulah. Dipandanginya dalam
wajah anak itu, disapu keningnya dari helaian rambut yang menghalangi, wajah Bu
Yani hampir beradu dengannya, dengan lirih menahan sedih Bu Yani berkata
“Tiara, kenapa?” hanya dua kata yang mampu tecurah dari bibir gemetarnya.
Panggilan lirih yang baru ini terdengar karena biasanya orang memanggilnya
dengan penuh kesal “TIA…RA…” tapi kali ini panggilan itu penuh haru. Tak ada
jawaban Tiara dari pertanyaan Bu Yani hanya bunyi detak jantung yang terdeteksi
dari sebuah alat yang terletak di kanan ranjangnya.
Bu yani
tak kuasa menahan tangis menyaksikan seorang siswa yang tak pernah menyerah
saat pertarungan karate, kali ini harus mengalah oleh penyakit yang
dideritanya. Pertanyaan Bu Yani masih belum terjawab, sampai akhirnya Ibu Tiara
memaparkan semua tentangnya. Sebuah cerita yang tak bisa ditanggapi dengan
balas kata, hanya tangisan yang sanggup Bu Yani berikan. Tiara sebenarnya anak
yang baik, berprestasi seperti yang kita kenal selama ini. “Tapi sejak kelas 4
kondisi fisiknya terus menurun, sampai akhirnya Tiara diperiksa oleh ahli
penyakit dalam. Betul saja, sakit kepala yang selama ini dikeluhkannya,
ternyata bersumber dari kanker yang perlahan menggerogoti otaknya. Kami sudah
berusaha untuk menyembunyikan darinya. Tapi kami tak kuasa untuk menyimpannya
karena setiap hari ia terus bertanya tentang penyakitnya, ia pun tahu bahwa
umurnya tak bisa lebih dari setahun lagi. Tapi Tiara tak mau dikasihani, tak
mau diperlakukan seperti orang sakit. Mungkin itu yang membuat sifatnya berubah
jahil ketika disekolah. Tapi bagi saya ia masih seperti yang dulu, anak yang
tak mau dianggap lemah, anak yang tak mau dianggap menyerah, dan yang pasti
anak yang tak mau dianggap kalah bahkan oleh garis nasib. Jika nasib itu berupa
lawannya di pertandingan karate, saya yakin dia akan berusaha untuk
menjatuhkannya dan kemudian memenangkan pertandingan itu.” Cerita Ibunya yang
hanya sanggup disela oleh sedu tangis Bu Yani. Dalam hatinya cerita itu cukup
untuk menjawab pertanyaannya “Mengapa?” mengapa sifatnya berubah, mengapa ia
begitu liar, tetapi begitu syahdu saat pelajaran Al Quran. Mengapa ia tak bisa
tenang saat belajar, tetapi menangis saat PAI membahas kematian. Hanya tangisan
penyesalan yang sanggup Bu Yani berikan, mengapa ia tak bisa membaca gelagat
perubahan sifat dari siswanya yang membutuhkan. Dia begitu membutuhkan
perhatian, hangat pelukan, dekapan kasih sayang. Namun Bu Yani hanya bisa
menyesali saat amarahnya meledak ketika puluhan katak keluar dari sebuah kotak.
Tanpa sebenarnya ia tahu ada surat pemintaan maaf yang ia taruh didasar kotak.
Pagi
saat circle Bu Yani menceritakan apa yang dialaminya semalam, tentang si Jahil
yang saat ini terbaring diruang ICU sebuah rumah sakit. Tak berapa lama mereka
sepakat untuk menjenguk Tiara. Kini mereka tengah menghadapi seorang anak yang
pernah begitu dicintai kemudian menjadi anak yang begitu dibenci. Dia yang saat
ini terkulai lemah di sudut ruang ICU. Isakan, tangisan dan tetesan air mata
memnuhi suasana ruangan itu. 27 orang anak ditambah Bu yani datang menjenguk
Tiara. Tiara hanya bisa berbaring menyaksikan kesungguhan doa disertai air mata
dari kawan-kawannya. Tiara ingin berucap banyak, tapi hanya simpul lipatan
telapak tangan yang bertemu di dadanya sebagai simbol maaf yang dapat
dilakukannya. Dijulurkan tangan lemahnya ke arah Bu Yani, dengan lemah dan
gemetar seperti tadi malam menghampiri Tiara “Kenapa nak?” sambil mengusap air
mata yang memang sedari tadi lancar meluncur dari kelopak matanya. Tanpa banyak
kata Tiara hanya memberikan sebuah mushaf Al Quran yang selama ini menemaninya,
mushaf yang terkadang basah oleh air mata saat ia membaca, dengan lemah ia
berkata “Kenanglah aku dengan membacanya.” Anggukan kecil Bu Yani sanggup
membuat kedua belah bibirnya yang selama ini gersang tanpa senyuman, seketika
sejuk tersiram kebahagian dari seorang anak yang membutuhkan bimbingan
kematian. “Pergilah nak, pergilah dengan senyuman itu, pergilah dengan menyebut
nama Tuhanmu, pergilah….” kata Bu Yani dengan iringan iskan tangis yang
mendalam. Gengaman erat tangan keduanya, terlepas karena nyawa salah seoranya
telah terbawa oleh iringan malaikat yang mungkin sudah menunggunya. Seketika
itu, alat pendeteksi jantung tak sanggup meraba denyut terkecil dari gerakan
jantungya, oksigen tak lagi keluar masuk dari hidungnya, matanya tertutup
rapat. Sang pemenang, kini tumbang oleh kenyataan. Kenyatan yang menggambarkan
kebesaran Tuhan “KULLU NAFSIN DZA IQATUL MAUT” setiap yang bernyawa pasti akan
mati. Innalillahi wa’inailliahi rojiun, selamat jalan Tiara, segala apa yang
engkau perbuat akan menjadi sebuah kenangan yang indah bagi kami, segala yang
engkau alami menjadi sebuah inspirasi buat kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar