KONSEP
DIALEK
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Sosiolinguistik”
Disusun oleh :
Kelompok 3
Nama :
Ø Madropik
Ø Kasam
Ø Muhamad
Fajar Ramdan
Ø Mamay
Ø Iska
Kelas : B
Semester :
V
Jurusan : Diksatrasiada
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MATHLA’UL ANWAR (BANTEN)
TAHUN
AKADEMIK
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji Syukur senantiasa kami
panjatkan kepada Allah SWT, atas karunianya.
Sehingga makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini merupakan syarat untuk
melengkapi nilai tugas Mata Kuliah “Sosiolinguistik”
Keberhasilan makalah ini tidak lain juga disertai referensi-referensi serta
bantuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Makalah ini juga masih memiliki
kekurangan dan kesalahan,baik dalam penyampaian materi atau dalam penyusunan
makalah ini. Penyusunan makalah ini juga dimaksudkan untuk menambah wawasan
mahasiswa mengenai materi ini.
Sehingga kriitik dan saran yang membangun yang sangat saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya saya menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.
Cikaliung, November 2015
Penyusun
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang.................................................................................................... 1
1.2.
Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
1.3.
Batasan
Masalah................................................................................................ 1
1.4.
Tujuan Penulisan............................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Dialek.............................................................................................. 2
2.1.1. Dialek Regional..................................................................................... 3
2.1.2. Dialek Register...................................................................................... 4
2.1.3.
Dialek Diglossia..................................................................................... 8
2.2. Jenis – Jenis Unsur
Bahasa.............................................................................. 11
BAB III
PENUTUP
3.1.
KESIMPULAN....................................................................................................... 16
3.2.
SARAN.................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan
beberapa kelompok tutur yang luas yang tentu saja ada tata bahasanya,
sejarahannya, memiliki otonomi, dan standar digunakan sebagi alat komunikasi
suatu negara, bahasa iptek, politik dan sebagainya serta dipahami secara baik
oleh masyarakat tutur yang luas (mutually intelligibility).
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu
bentuk, baik bunyi, tulisan maupun strukturnya, dan makna, baik leksial maupun
fungsional dan structural. Jika kita memperhatikan bahasa dengan terperinci dan
teliti, kita akan melihat bahwa bahasa itu dalam bentuk dan maknanya
menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil atau besar antara pengungkapan satu
dengan pengungkapan yang lain, lalu kita akan mendengarkan
perbedaan-perbedaannya.
Seperti halnya yang kita ketahui di sekitar
kita, setiap daerah hampir seluruhnya mempunyai bahasa daerahnya
sendiri-sendiri atau bisa dikatakan meskipun istilahnya bahasa jawa akan tetapi
bahasa jawa sendiri masih banyak macamnya yang dipergunakan disetiap daerah, begitu
juga dengan bahasa arab, di negara-negara arab tidak semua bahasa mereka sama,
akan tetapi masih banya ragam bahasa didalam bahasa arab itu sendiri.
1.2.
Rumusan Masalah
Dalam
pembahasan makalah ini kami akan fokuskan pada masalah Pemahaman Mengenai
Konsep Dialek
1.3.
Batasan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membatasi pada
ruang lingkup “ Konsep Dasar Dialek dan
Jenis – Jenis Unsur Bahasa”
1.4.
Tujuan Penulisan
|
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pemahaman dalam konsep dialek,
begitupulah tujuan makalah ini sebagai bahan referensi dan bahan diskusi
kelompok III ( Tiga ) Kelas B Semester V Maka Kuliah “Sosiolinguistik”
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Dialek
|
Berdasarkan kajian Abdul Hamid
Mahmood dalam karyanya yang bertajuk Dialek Terengganu: satu tinjauan ringkas,
memetik Ayatrohaedi, 1979:1 menyatakan istilah dialek berasal daripada Yunani yaitu
dialektos yang pada mulanya digunakan dalam hubungan dengan keadaan bahasa di
tempat itu. Sementara di Yunani terdapat perbezaan-perbezaan kecil di dalam bahasa
yang digunakan oleh penduduknya masingmasing, tetapi sedemikian jauh hal
tersebut tidak sampai menyebabkan mereka merasa mempunyai bahasa yang berbeza.
Di samping itu Kamus Dewan ( 2005:348) mendefiniskan dialek sebagai satu bentuk
bahasa yang digunakan dalam sesuatu daerah atau oleh sesuatu kelas sosial
berbeza daripada bahasa standard, loghat, pelat negeri dan lain-lain.
Seterusnya Nik Safiah Karim ( 1993:27) menerusi Monograf Simposium Dialek
mentakrifkan dialek sebagai variasi bahasa yang dibezakan mengikut penggunanya.
Tiap-tiap dialek dialek mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membezakannya
dengan dialek-dialek yang lain. Sementara J.K. Chamber (1990:3) berpendapat
dialek ialah satu bentuk bahasa yang substandard, berstatus rendah dan bersifat
kedesaan, rata-rata ia dikaitkan dengan masyarakat tani, kelas pekerja atau
golongan-golongan lain yang tidak bertaraf tinggi. Beliau juga mengaitkan
dialek dengan bentuk-bentuk bahasa yang yang dituturkan oleh penduduk yang
tidak mempunyai bentuk tulisan. 19 Manakala Kamaruddin ( 1997:4) pula
menerangkan dialek bagi sesuatu bahasa itu dapat dibahagikan kepada dua iaitu
dialek daerah dan dialek sosial. Dialek daerah adalah antara satu kawasan
dengan satu kawasan yang lain terdapat perbezaan dari segi dialek pertuturannya.
Perbezaan dialek dalam pertuturan akan ketara pada suatu kawasan yang luas.
Namun begitu dialek-dialek yang berhampiran akan mempunyai banyak persamaan
berbanding yang terletak berjauhan. Sering kali berlaku perbezaan yang sangat
banyak dan menyebabkan para penutur sukar untuk memahami dialek yang dituturkan
antara satu sama lain. Dialek sosial ialah perbezaan pertuturan yang
berdasarkan kepada kedudukan seseorang dalam tingkat masyarakatnya. Di dalam
bahasa Malaysia dialek sosial tidak begitu jelas kehadirannya, cuma dapat
dilihat dalam perbezaan leksikon antara golongan raja dan rakyat biasa. (
Mazlan, 1987:17).
|
2.1.1. Dialek Regional
Sekarang
kita bahas mengenai kejelasan batas di antara ragam-ragam bahasa. Model pohon
keluarga yang digambarkan pada pembelajaran sebelumnya menunjukkan bahwa bates
di antara ra-gam-ragam bahasa itu tampak jelas pada semua jenjang pohon. Akan
tetapi, kita tidak dapat menelusuri semua cabang atau jenjang pohon hingga ke
jenjang individu pemakai bahasa (idiolek).
Jika kita
memperhatikan perbedaan ragam bahasa yang paling je¬las atas dasar geografi, maka
jika model pohon keluarga itu benar, kita akan dapat menemukan dialek-dialek
regional di dalam ragam bahasa yang lebih besar seperti bahasa Inggris.
Pernyataan ini didukung oleh berbagai bukti yang dikumpulkan oleh disiplin ilmu
yang disebut Dialektologi, terutama oleh cabangnya yang disebut Geografi
Dialek. Sejak abad ke-19, para dialektolog di Eropa dan Amerika Serikat telah
meneliti distribusi geografis dari unsur-unsur bahasa, seperti pasangan kata
sinonim (misalnya, pail dan bucket) atau beberapa pelafalan yang berbeda untuk
kata yang sama, seperti farm dengan atau tanpa / r /. Hasil penelitian mereka
digambarkan dalam sebuah peta, yang menunjukkan unsur-unsur apa yang ditemukan
di desa-desa tertentu (karena geografi dialek cenderung berfokus pada daerah-daerah
pedesaan untuk menghindari kompleksitas daerah perkotaan). Kemudian geografer
dialek menarik garis antara daerah di mana satu unsur ditemukan dan daerah di
mana unsur-unsur lain ditemukan, yang menunfukkan sebuah batas untuk setiap
daerah yang disebut Isogloss (dari bahasa Yunani iso- ‘sama’ dan gloss- lidah).
Model pohon
keluarga memungkinkan pembuatan prediksi yang sangat penting tentang isogloss,
yaitu bahwa isogloss-isogloss tidak saling mempengaruhi atau bersinggungan.
Prediksi ini bereumber dari hirarki yang ketat di antara ragam-ragam bahasa
dalam model itu yang hanya memungkinkan dua hubungan di antara dua ragam
ba¬hasa: apakah salah satu ragam bahasa itu merupakan induk dari ragam bahasa
lain, atau keduanya merupakan ragam bahasa turunan.
|
(Hudson,
1980: 59)
2.1.2. Dialek
Register
Dalam
variasi sebuah bahasa dapat dibagi menjadi dua macam. Rusyana (1984:140)
mengemukakan bahwa variasi dalam sebuah bahasa itu ada variasi menurut
penuturnya dan variasi menurut penggunaannya. Variasi menurut penutur terjadi
disebabkan setiap orang menggunakan variasi yang pemilihannya berkaitan erat
dengan asal-usul penutur itu dan variasi yang demikian itu disebut dialek.
Variasi
dialek yang berkaitan dengan kemasyarakatannya disebut dialek sosial. Variasi
sosial adalah menurut penggunaannya. Selanjutnya setiap penutur itu ternyata
mempunyai seperangkat variasi, dan ia menggunakan setiap variasi itu pada waktu
yang berlainan. Variasi yang demikian itu disebut register.
Antara
register dan dialek adalah merupakan istilah yang berbeda. Halliday dalam
Hudson (1998:43) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan register adalah
variasi bahasa menurut penggunaannya, sedangkan dialek adalah variasi bahasa
menurut pemakainya. Lebih lanjut dikatakannya bahwa register is what you are
speaking (at the time), and dialect is what you speak (habitualy).
Cummings dan
Simon dalam Hudson (1998:101) juga mengemukakana bahwa register adalah suatu
variasi bahasa yang tidak hanya menurut siapa yang berbicara, tetapi juga
menurut situasi. Tipe ini kadang-kadang juga disebut stylistic variation.
Pendapat di
atas sejalan dengan pendapat Halliday yang mengemukakan bahwa dialek diartikan
sebagai variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya. Dengan perkataan lain, dialek
merupakan bahasa yang bisa digunakan oleh pemakainya yang pada dasarnya
bergantung pada siapa pemakainya, dari mana pemakai itu berasal, baik secara
sosial dalam kaitannya dengan dialek sosial atau pun secara geografis yang
dalam kaitannya dengan dialek regional.
|
Menurut
Fishman dalam Hudson (1998:149) register diartikan sebagai ragam bahasa yang
digunakan saat itu bergantung pada apa yang dikerjakan dan sifat kegiatannya.
Selanjutnya Halliday menjelaskan bahwa register ditentukan field of discourse,
mode of discourse, dan style of discourse. Teeuw (1992:57) menyebutnya dengan
istilah medan, sarana, dan pelibat. Field of discourse mengacu pada tujuan
apakah bahasa itu digunakan dan apa topik pembicaraannya. Mode of discourse
mengacu pada makna komunikasi atau media apa yang digunakan (lisan atau
tulisah). Style of discourse mengacu pada hubungan antar partisipan yang
terlibat dalam komunikasi.
Istilah lain
yang digunakan dengan istilah-istilah di atas adalah field, mode, dan tenor.
Dengan kata lain, register menjelaskan hubungan bahasa dengan konteks, kapan,
siapa, di mana, bagaimana dan untuk apa bahasa itu digunakan. Hal ini sejalan
dengan pendapat Brown (1980:191) bahwa register bergantung pada topik
pembicaraan, partisipan, media yang digunakan, dan formalitas pembicaraan.
Sejalan
dengan pendapat di atas Alwasilah, (1989:63) menjelaskan bahwa register adalah
suatu ragam bahasa yang digunakan untuk maksud tertentu sebagai lawan dari
dialek sosial atau regional (variasi menurut penurutunya). Register ditentukan
oleh topik pembicaraan (field of discourse), media pembicaraan (mode of
discourse), atau tingkat keformalan (Imanner of discourse).
Dari uraian
di atas dapat diungkapkan bahwa dalam pemakaian ragam bahasa tersirat pemilihan
ragam bahasa karena sebelum seseorang memakai suatu ragam bahasa terlebih
dahulu ia akan menentukan atau memilih ragam bahasa apa yang akan digunakan.
Dalam kaitan ini, beberapa ahli mengatakan bahwa ada berbagai faktor yang
mempengaruhi pemilihan bahasa, dalam hal ini penulis kaitkan dengan pemilihan
dan pemakaian ragam bahasa, yaitu partisipan, situasi, isi pembicaraan, dan
fungsi serta tujuan interaksi (Rusyana, 1988:34).
|
Dalam
konteks itu dapat disimpulkan bahwa dialek adalah ragam berdasarkan pemakainya
yang ditentukan oleh faktor siapa yang berbicara, dari mana ia berasal, baik
secara sosial maupun geografis. Adapun register adalah ragam bahasa berdasarkan
pemakaiannya, yang ditentukan oleh faktor partisipan (lawan bicara), tipik,
situasi, media, dan fungsi serta tujuan pembicaraan.
Istilah
‘register’ digunakan secara luas dalam sosiolinguistik untuk mengacu kepada
ragam bahasa menurut pemakainya, sedangkan dialek mengacu kepada ‘ragam bahasa
menurut pemakaiannya’. Per¬bedaan ini diperlukan karena seseorang mungkin
menggunakan unsur-unsur bahasa yang sangat berbeda untuk mengungkapkan makna
yang sama pada kesempatan-kesempatan yang berbeda, dan konsep ‘dialek’ tidak
mencakup variasi ini. Misalnya, dalam menulis sebuah surat seseorang mungkin
mulai dengan: “Saya menulis surat ini untuk memberitahu kamu bahwa……,”, tetapi
dalam surat lain ia mungkin menulis: “Saya hanya ingin memberitahu kamu
bahwa…….”. Kedua contoh ini dapat diperbanyak dan menunjukkan bahwa tingkat
variasi yang disebabkan oleh perbedaan register mungkin sebanding dengan tingkat
variasi yang disebabkan oleh perbedaan dalam dialek.
Kita dapat
menafsirkan perbedaan register menurut model tindak identitas seperti kita
menafsirkan perbedaan dialek. Setiap kali sese-orang berbicara atau menulis, ia
tidak hanya menempatkan dirinya de¬ngan mengacu kapada anggota masyarakat
lainnya, tetapi juga menghubungkan tindak komunikasinya dengan skema
klasifikasi perilaku komunikasi yang kompleks. Skema ini berbentuk matriks
multi dimensi, seperti gambar masyarakat yang dikembangkan dalam setiap pikiran
individu. Dalam pernyataan yang paling sederhana, kita dapat mengatakan bahwa
dialek seseorang menunjukkan siapa orang itu, sedangkan registernya
memperlihatkan apa yang ia lakukan.
|
“Dimensi-dimensi”
untuk menempatkan suatu tindak komunikasi tidak kurang kompleks daripada
dimensi-dimensi yang berhubungan dengan lokasi sosial pemakai bahasa. Michael
Halliday (1978: 33) membedakan tigas jenis dimensi umum: ‘field’, ‘mode’ dan
‘tenor’ ’gaya’ kadang-kadang digunakan untuk menggantikan ‘tenor’, tetapi
istilah ini sebaiknya dihindari karena ‘gaya’ digunakan dengan arti yang sama
dengan ‘register’.
Field
berhubungan dengan tujuan dan pokok bahasan dalam komunikasi; mode mengacu
kepada cara melangsungkan komunikasi terutama melalui lisan dan tulisan. Tenor
bergantung pada hubungan di antara para partisipan. Di sini sebuah slogan akan
membantu. Field mengacu kepada ‘mengapa’ dan ‘tentang apa’ suatu komunikasi
berlangsung; mode adalah tentang ’bagaimana’ dan tenor adalah tentang ’kepada
siapa’.
Menurut
model ini, perbedaan register mengandung sedikitnya tiga dimensi. Model lain
yang juga digunakan secara luas dikemukakan oleh Dell Hymes (1972), di mana
tidak kurang dari 13 variabel menentukan unsur-unsur bahasa yang dipilih oleh
seorang penutur, selain variabel ‘dialek’. Namun kita sangat meragukan jika
jumlah ini mencerminkan semua kompleksitas perbedaan register. Namun demikian,
setiap model ini memberikan kerangka acuan untuk menempatkan dimensi-dimensi
persamaan dan perbedaan. Misalnya, hubungan antara pembicara dan lawan bicara
melibatkan lebih dari satu di¬mensi, termasuk dimensi kekuasaan’, di mana lawan
bicara lebih rendah, sederajat atau lebih tinggi dari pembicara, dan dimensi
yang disebut ‘solidaritas’, yang membedakan hubungan akrab dengan hubungan yang
jauh.
|
Dalam
bahasa Indonesia misalnya, kita juga menempatkan hubungan kita dengan lawan
bicara pada kedua di¬mensi ini, dan kita biasanya memilih istilah-istilah
panggilan: Bapak Anwar, Pak, Didi, kamu dan lain-lain. Sejauh ini kita telah
menggunakan istilah ‘register’ sebagai konsep yang biasanya digunakan sebagai
nama dari satu jenis ragam bahasa yang sejajar dengan dialek. Namun, kita
mengetahui bahwa dialek tidak berdiri sebagai ragam bahasa yang tersendiri,
sehingga kita harus bertanya apakah register merupakan ragam bahasa yang
berdiri sendiri.
(Hudson, 1980: 44)
(Hudson, 1980: 44)
2.1.3. Dialek
Diglossia
Istilah
‘diglossia’ diperkenalkan ke dalam literatur sosiolinguistik oleh Charles
Ferguson (1959) untuk memaparkan situasi yang ditemukan di tempat-tempat
seperti Yunani, dunia Arab pada umumnya, negara Swis yang berbahasa Jerman dan
pulau Haiti. Di semua masyarakat ini terdapat dua ragam bahasa yang berbeda;
satu ragam bahasa hanya digunakan pada kesempatan formal, dan satu ragam bahasa
lagi digunakan oleh setiap orang dalam situasi biasa sehari-hari.
Ferguson
mendefinisikan diglossia dalam Hudson (1998:49) adalah suatu situasi bahasa
yang relatif stabil di mana, selain dialek-dialek utama, juga terdapat satu
dialek yang sa¬ngat berbeda, sebagai sarana untuk menulis literatur, baik dari
periode sebelumnya maupun dalam masyarakat ujaran lain, yang dipelajari secara
luas melalui pendidikan formal dan di¬gunakan untuk kepentingan lisan dan
tulisan formal tetapi tidak digunakan oleh lapisan masyarakat manapun untuk
percakapan biasa. Misalnya, dalam sebuah masyarakat diglossia yang berbicara
ba¬hasa Arab, bahasa yang digunakan di rumah adalah versi bahasa Arab lokal
(mungkin ada perbedaan yang sangat besar antara satu dialek bahasa Arab dengan
dialek lainnya) dengan sedikit variasi di antara para penutur yang terdidik dan
penutur yang kurang terdidik. Namun jika seseorang harus memberikan kuliah di
perguruan tinggi atau seorang ulama harus memberikan ceramah di mesjid, maka ia
diharapkan menggunakan bahasa Arab Standar, sebuah ragam bahasa yang pada semua
jenjang berbeda dengan bahasa daerah dan dirasakan sangat berbeda dengan bahasa
daerah itu sehingga bahasa Arab standar ini diajarkan di sekolah-sekolah
seperti bahasa asing diajarkan di negara-negara yang berbahasa Inggris. Ketika
anak-anak belajar membaca dan menulis, bahasa standar inilah yang mereka
pelajari.
|
Perbedaan
yang paling jelas antara masyarakat bahasa diglossia dan masyarakat bahasa
biasa/normal adalah bahwa tidak seorang pun dalam masyarakat bahasa diglossia
memperoleh keuntungan dari belajar ragam bahasa tinggi sebagai bahasa
pertamanya (sebagaimana digunakan dalam kesempatan formal dan dalam
pendidikan), karena setiap orang berbicara ragam bahasa rendah di rumah.
Akibatnya, cara untuk menguasai satu ragam bahasa tinggi di masyarakat tersebut
adalah dengan cara pergi bersekolah. Tentunya masih ada perbedaan di antara
keluarga-keluarga dalam kemampuan mereka un¬tuk memperoleh pendidikan, sehingga
diglossia tidak menjamin persamaan bahasa di antara si kaya dan si miskin, tetapi
perbedaan ini hanya muncul dalam situasi formal.
Definisi
diglossia yang dikemukan oleh Ferguson di atas sangat spesifik dalam beberapa
hal. Misalnya, ia menegaskan bahwa ragam ba¬hasa tinggi dan ragam bahasa rendah
dimiliki oleh bahasa yang sama. Namun beberapa penulis telah memperoleh istilah
ini sehingga mencakup situasi yang tidak memenuhi syarat sebagai situasi
diglossia menurut definisi Ferguson. Dalam hal ini, Joshua Fishman (1971: 75)
mengacu ke Paraguay sebagai satu contoh masyarakat diglossia, meskipun ragam
bahasa tinggi dan rendah di Paraguay adalah bahasa Spanyol dan Guarani, sebuah
bahasa Indian yang tidak berhubungan sama sekali dengan bahasa Spanyol. Karena
kita telah menegaskan bah¬wa tidak ada perbedaan nyata di antara ragam-ragam bahasa
dalam sebuah bahasa dan dalam beberapa bahasa yang berbeda, maka pelonggaran
ini tampak sangat wajar.
|
Sementara
itu, Fisman juga memperluas istilah ‘diglossia’ ke dalam setiap masyarakat yang
menggunakan dua atau lebih ragam bahasa dalam situasi-situasi yang berbeda
(1971: 74). Perluasan ini disesalkan karena” seolah-olah setiap masyarakat
adalah masyarakat diglossia, bahkan termasuk masyarakat Inggris yang berbahasa
Inggris, di mana ‘register’ dan ‘dialek’ yang berbeda digunakan dalam situasi
yang berbeda-beda (misalnya, bandingkan antara khotbah dan laporan olah-raga).
Nilai konsep
diglossia ini adalah bahwa konsep ini dapat diguna¬kan dalam tipologi
sosiolinguistik yaitu untuk mengelompokkan masyarakat menurut jenis tatanan
sosiolinguistik yang berlaku di antara mereka dan ‘diglossia’ menunjukkan
perbandingan dengan jenis tatanan sosiolinguistik yang ditemukan di
negara-negara seperti Ing¬gris dan Amerika Serikat, yang dapat kita sebut
sebagai ‘dialektia sosial’ untuk membuktikan bahwa ‘ragam-ragam bahasa’ yang
ada merupakan dialek bukan register.
2.1.3.1.
diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana
selain terdapat sejumlah dialek-dialek utama atau ragam-ragam utama dari satu
bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain.
2.1.3.2.
dialek utama atau ragam utama berupa dialek standar atau sebuah standar
regional.
2.1.3.3.
ragam lain yang bukan dialek-dialek utama itu memiliki ciri :- sudah
sangat terkodifikasi
·
gramatikalnya lebih kompleks
·
merupakan wahana kesusasteraan tertulis yang sangat luas dan dihormati
·
dipelajari melalui pendidikan formal
·
digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal
·
|
tidak digunakan untuk oleh masyarakat manapun percakapan sehari-hari.
Topik-topik
dalam diglosia diantaranya fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan,
standardisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, dan fonologi.
2.2.
Jenis –
Jenis Unsur Bahasa
Salah satu pertanyaan paling menarik yang diajukan dalam
pembahasan tentang ragam bahasa adalah apakah semua unsur bahasa mengalami
perubahan dengan cara yang sama. Dengan mengacu kepada konsep ‘logat’, tampak
ada satu perbedaan umum antara un¬sur pelafalan dan unsur-unsur lain
(morfologi, sintaksis, kosakata), di ¬mana pelafalan kurang dapat dibakukan.
Dengan demikian, standardisasi tidak berlaku pada pelafalan.
Pelafalan
tampak berbeda dengan jenis-jenis unsur bahasa lain da-lam fungsi sosialnya.
Misalnya, meskipun terdapat pengaruh Amerika terhadap Inggris, namun
pengaruhnya terhadap bahasa Inggris di Inggris (British English) hanya terbatas
pada kosakata dan tidak ada dampaknya terhadap pelafalan kelompok-kelompok
orang yang terkena pengaruh itu. Akan tetapi, perbedaan antara pelafalan dan
unsur-unsur bahasa lainnya bisa memiliki wujud yang berbeda seperti da¬lam
kasus anak-anak dan remaja kulit hitam kelas menengah di Detroit, yang diteliti
oleh Walter Wolfram (1969).
Wolfram
(1969: 205) menyatakan bahwa bagi para penutur bahasa ini, unsur-unsur
sintaksis dan morfologis adalah unsur-unsur yang diharapkan dari kelompok kelas
menengah pada umumnya (misalnya, ada beberapa ‘negatif ganda’ yang umum di
dalam ujaran Jelas bawah di Detroit), tetapi pelafalan mereka mirip dengan
pelafalan remaja kelas bawah di Detroit.
Wolfram
(1969: 204) juga menegaskan bahwa perbedaan dalam pela¬falan bersifat
kuantitatif, sedangkan perbedaan-perbedaan lain bersifat kualititatif yaitu,
perbedaan kelas dalam fonologi menyangkut frekuensi pemakaian unsur-unsur
tertentu, sedangkan perbedaan da¬lam sintaksis dan morfologi menyangkut
pemakaian jenis-jenis unsur. Namun, dasar untuk generalisasi ini sangat dangkal
dan tidak diperkuat oleh penelitian-penelitian lain.
|
Selanjutnya,
pelafalan dan unsur-unsur lainnya mungkin memainkan peranan yang berbeda dalam
tindak identitas individu. Misalnya, kita menggunakan pelafalan untuk
mengidentifikasi asal-usul kita. Sebaliknya, kita menggunakan morfologi,
sintaksis dan kosakata untuk mengidentifikasi status kita sekarang dalam
masyarakat, seperti tingkat pendidikan yang telah kita capai. Ini hanya
merupakan perkiraan, tetapi terdapat cukup bukti mengenai perbedaan antara
pelafalan dan unsur-unsur bahasa lain yang memerlukan penjelasan umum.
Perbe¬daan ini mungkin merupakan artefak dari proses standardisasi, sehingga
kita perlu mencari bukti dari masyarakat yang tidak dipengaruhi oleh
standardisasi ini. Jika perbedaan tersebut ditemukan dalam masyarakat itu, maka
kita dapat berasumsi bahwa kita telah menemukan suatu fakta penting tentang
bahasa. Di sini kita dapat mengajukan pertanyaan apakah ada bukti yang
mendukung pendapat bahwa pelafalan tidak sudah terkena per-ubahan? Pada
dasamya, pendapat ini kurang mendapat dukungan dan secara umum kita mengakui
bahwa perbedaan dalam bentuk-bentuk dasar (yaitu perbedaan leksikal) adalah
umum. Misalnya, mereka yang mengucapkan /r/ dalam kata “farm” mungkin dianggap
memiliki bentuk-bentuk dasar yang berbeda untuk kata ini dengan bentuk-bentuk
dasar yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengucapkan /r/. Pada kenyataannya,
jenis variasi dalam fonologi memang dite¬mukan, dan bahkan ditemukan pada skala
besar.
Kita juga
dapat mengajukan pertanyaan serupa tentang aspek-aspek bahasa selain pelafalan.
Apakah ada bukti yang mendukung pendapat bahwa sintaksis lebih tahan terhadap
perubahan daripada morfologi atau kosakata? Contoh-contoh perbedaan sintaksis
di dalam ragam bahasa ” yang berukuran bahasa” tidak sering dikutip dalam
literatur jika dibanding dengan perbedaan dalam pelafalan atau mor¬fologi, yang
sulit dipisahkan. Misalnya, apakah perbedaan antara -ing dan -in’ dalam kata
seperti “coming” merupakan perbedaan dalam pelafalan atau dalam morfologi?
Selain itu, perbedaan dalam kosakata juga lebih sering dibahas dalam literatur
dialektologi daripada per¬bedaan dalam aspek-aspek bahasa lainnya yang perlu
dijelaskan.
|
Kita harus
berhati-hati dengan perbedaan yang jelas ini. Pertama, kurangnya acuan kepada
perbedaan sintaksis dalam literatur dapat disebabkan oleh kesulitan dalam
meneliti perbedaan tersebut, karena perbedaan itu relatif jarang terjadi dalam
ujaran biasa dan sulit dijelaskan secara langsung jika dibanding dengan unsur
kosakata. Kedua, stabilitas sintaksis mungkin merupakan sebuah ilusi karena
unsur-unsur sintaksis (yaitu konstruksi kalimat) relatif sedikit jika dibanding
dengan unsur-unsur kosakata, sehingga meskipun proporsi unsur sintaksis yang
sama telah berubah, namun jumlahnya tetap kecil. Ketiga, meskipun terdapat
perbedaan antara sintaksis dan aspek-aspek bahasa lainnya, namun perbedaan ini
tetap merupakan hasil dari proses standardisasi. Namun demikian, sintaksis
tampak cenderung seragam jika dibanding dengan aspek-aspek bahasa lain, dan
keseragaman ini sulit dijelaskan.
Bukti untuk
pandangan tersebut datang dari dua sumber. Unsur-unsur sintaksis disebarkan
secara umum melewati batas-batas ‘ba-hasa’ ke daerah-daerah terdekat. Misalnya,
tiga bahasa yang berdekatan di negara-negara Balkan (bahasa Bulgaria, Romania,
dan Al¬bania) semua memiliki ciri kata sandang atau artikel berimbuhan.
Ciri bersama
ini hanya dapat dijelaskan melalui difusi atau penyebaran pada masa lalu
(setidaknya sejak jaman bahasa Latin, yang menurunkan bahasa Romania).
Ciri-ciri ini menyebar melewati batas-batas bahasa sebagai akibat dari
bilingualisme, dan munculnya ciri-ciri sin¬taksis di antara ciri-ciri daerah
mungkin disebabkan oleh kecenderung di antara para dwibahasawan untuk menghapuskan
konstruksi kalimat guna menghadapi hubungan sintaksis tertentu dalam salah satu
bahasa mereka, sehingga menimbulkan penyebaran ciri sintaksis yang digunakan
dalam bahasa lain. Penyebaran unsur-unsur sintaksis ini agak sulit dipahami,
karena sintaksis pada umumnya tampak relatif kuat tahan terhadap perubahan.
|
Bukti
lain terhadap pendapat bahwa kita secara aktif menghapus¬kan
altematif-altematif dalam sintaksis dilaporkan oleh John Gumperz dan Robert
Wilson (1971) dari Kupwar, sebuah desa kecil di India yang 3.000 pendudukannya
berbicara tiga bahasa Marathi dan Urdu, yang merupakan bahasa Indo-Eropa, dan
Kannada, yang bukan merupakan bahasa Indo-Eropa (Sejumlah kecil orang juga
ber¬bicara bahasa keempat, Telugu, yang bukan merupakan rumpun ba¬hasa Indo-Eropa).
Seperti
biasanya di India, desa itu dibagi ke dalam sejumlah kelompok atau kasta yang
berbeda, dan masing-masing kasta ini dapat dikenali melalui bahasanya. Namun,
kasta-kasta yang berbeda ini perlu saling berkomunikasi dan bilingualisme (atau
trilingualisme) merupakan hal yang lazim di antara para anggota kasta.
Bahasa-bahasa
hidup berdampingan seperti ini selama berabad-abad, tetapi semua bahasa ini
tetap berbeda dalam kosakata. Gumperz dan Wilson menegaskan bahwa latar
belakang perbedaan ini adalah bahwa perbedaan bahasa berfungsi sebagai simbol
perbedaan kasta, yang dipertahankan dengan sangat ketat.
Dengan
demikian, kosakata memainkan peran dalam membedakan kelompok-kelompok sosial,
na¬mun dalam sintaksis, ketiga bahasa utama itu telah menjadi lebih sama di
Kupwar daripada di daerah lain. Misalnya, dalam bahasa Kannada standar, kalimat
seperti Tukang pos itu adalah sahabat saya tidak mengandung kata untuk
“adalah”, sedangkan dalam bahasa Urdu dan Marathi kata itu ada; tetapi dalam
bahasa Kannada di Kupwar ada kata untuk “adalah” menurut contoh bahasa Urdu dan
Marathi. Con¬toh ini sesuai dengan hipotesis kita bahwa altematif-alternatif
dalam sintaksis cenderung dibuang, sedangkan alternatif-altematif dalam
kosa¬kata dan pelafalan cenderung lebih disukai dan digunakan sebagai tanda
perbedaan sosial. Tampaknya tidak ada contoh hubungan yang sebaliknya, di mana
kosakata dan pelafalan kurang memperlihatkan variasi jika dibanding dengan
sintaksis dalam suatu masyarakat.
|
Di
sini ada satu hipotesis yang sangat tentatif tentang jenis-jenis unsur bahasa
yang berbeda dan hubungannya dengan masyarakat. Menurut hipotesis ini,
sintaksis adalah tanda kepaduan dalam masya¬rakat, di mana individu-individu
berusaha menghilangkan alternatif-altematif dalam sintaksis dari bahasa mereka.
Pendapat Wolfram bahwa perbedaan sintaksis cenderung bersifat kualitatif bukan
kuantitatif tampak mendukung pandangan ini. Sebaliknya, kosakata merupakan
tanda pembagian dalam masyarakat, dan individu-individu secara aktif
mempertahankan altematif-alternatif untuk membuat perbedaan sosial lebih tidak
kentara. Sementara itu, pelafalan mencerminkan kelompok sosial permanen yang
diakui oleh pemakai bahasa.
Hal ini menimbulkan kecenderungan di antara
individu-individu untuk menghilangkan alternatif-alternatif. Akan tetapi,
berbeda dengan kecenderungan dalam sintaksis, kelompok-kelompok yang berbeda
menghilangkan berbagai aiternatif yang berbeda untuk membedakan diri mereka
dengan kelompok-kelompok lain, dan individu-individu tetap menghidupkan beberapa
alternatif agar mampu mengenali asal usul mereka sendiri dengan lebih tepat,
dengan menggunakan alternatif-alternatif itu dalam proporsi tertentu yang
berhubungan dengan altematif-alternatif lain.
(Hudson, 1980: 49)
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Istilah dialek berasal dari pada Yunani yaitu
dialektos yang pada mulanya digunakan dalam hubungan dengan keadaan bahasa di
tempat itu. Sementara di Yunani terdapat perbezaan-perbezaan kecil di dalam bahasa
yang digunakan oleh penduduknya masingmasing, tetapi sedemikian jauh hal
tersebut tidak sampai menyebabkan mereka merasa mempunyai bahasa yang berbeza.
Di samping itu Kamus Dewan ( 2005:348) mendefiniskan dialek sebagai satu bentuk
bahasa yang digunakan dalam sesuatu daerah atau oleh sesuatu kelas sosial
berbeza daripada bahasa standard, loghat, pelat negeri dan lain-lain.
Seterusnya Nik Safiah Karim ( 1993:27) menerusi Monograf Simposium Dialek
mentakrifkan dialek sebagai variasi bahasa yang dibezakan mengikut penggunanya.
Tiap-tiap dialek dialek mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membezakannya
dengan dialek-dialek yang lain. Sementara J.K. Chamber (1990:3) berpendapat
dialek ialah satu bentuk bahasa yang substandard, berstatus rendah dan bersifat
kedesaan, rata-rata ia dikaitkan dengan masyarakat tani, kelas pekerja atau
golongan-golongan lain yang tidak bertaraf tinggi. Beliau juga mengaitkan
dialek dengan bentuk-bentuk bahasa yang yang dituturkan oleh penduduk yang
tidak mempunyai bentuk tulisan.
Dialek terdiri
dari beberapa konsep diantaranya:
1. Dialek
Regional
2. Dialek
Register
3. Dialek
Diglossia
Adapun Jenis
– Jenis Unsur Bahasa diantaranya :
·
Morfologi
·
Sintaksis
·
Kosakata
3.2.
Saran
Penulis memberikan
saran bahwa dalam Materi Sosiolinguistik harus benar – benar dipahami, karena
Ilmu Sosiolinguistik ini memiliki berbagai bahasa yang sulit untuk dipahami.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Ø Sumarsono. 1995. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar